sebuah catatan perjalanan
Dieng Abode-nya 3-4September 2011
Berawal dari gagasan Ka Nurman dan Ka Aufa, serta sedikit campur tangan saya, dan tentu saja Ka Fiqi sebagai tuan rumah (baca ; tukang sedia penginapan dan makanan, juga penunjuk jalan). Maka, berangkatlah kami menuju ke sana, tanah nun jauh di atas bukit, bahkan pegunungan. Ya, kita lagaknya Sun Go Kong, mendaki Dieng Abode.
Jika kau punya gagasan, maka simpanlah dan genggam erat. Yakini saja bahwa itu akan benarbenar tercapai. Seperti kita yang menganganangan menapak Dieng setelah idul fitri ini. Maka jadilah.
Maka, hadirlah peserta pertama di sana, Ka Nurman yang langsung diimport dari Solo. Pukul sepuluh malam kala itu, saya menjemput beliau yang tak saya percayai ; benarbenar hadir di depan mata saya. Ka Nurman di Banjarnegara! Kota yang selama ini hanya saya gaungkan di kuping kakakaka. Lalu menyusullah peserta berikutnya, Ka Aufa yang membawa serta Ka Rifki yang diculik dengan senang hati dari Tegal. Mereka memakai motor. Luar biasa sekali ya. Subhanallah ya (Syahrini punya gaya). Kala itu, tepat tengah malam. Eksperia kedua kembali terjadi. Dua makhluk itu di kota saya! Welcome to Banjarnegara. Maka, bagaimana senyum saya tak lebar malam itu. Tiga orang mangsa telah terjerumus di Banjarnegara. Menanti mangsa keempat dan kelima yang gosipnya akan tiba subuh ini. Dialah Ka Romi dan Ka Irfan yang tak sehati berangkat dari Bandung. Ka Irfan yang tak sabar dan sampai hati meninggalkan Ka Romi seorang diri mengarungi jalanan dari Bandung menuju Banjarnegara. Sementara Ka Irfan menumpang nyamannya bus Budiman ber-AC ria dari magrib, Ka Romi harus puas dengan nikmatnya bus ekonomi tiga jam setelahnya. Tidak apa. Toh, Ka Irfan menapak Banjarnegara saat subuh tiba, dan Ka Romi di pukul delapan. Seorang lagi, itu adalah orang yang kami nantikan teramat sangat. Namun, jarak dan waktu agaknya membuat otak berputar kembali untuk sampai hati meneruskan niat menyambangi Banjarnegara. Maka, berat hati dalam hati membilang, “Sayang sekali, Dut…”
Tapi, bukankah ekspedisi harus tetap berlanjut? Dan inilah kami, delapan manusia menggagahi Dieng Abode. Kau tahu apakah itu Abode? Itu bermakna selayaknya tempat di nirwana. Hahaha. Kami seolah dewa, begitu. Lihat, lihat, ada saya, Ka Fiqi si tuan rumah, Ka Nurman, Ka Aufa, Ka Rifki, Ka Irfan, Ka Romi, dan guest star pak bos yang katanya dari Gombong, dan nyangkut ke Banjarnegara, dan dipaksa melanjutkan cerita bersama kita. Belum ke Banjarnegara namanya, kalau belum menjamah Dieng. Itu iming-iming kami. Dan menurut sajalah beliau. Tentu saja tidak dengan membawa sesal setelahnya. Karena, berani taruhan yang halal (memang ada taruhan yang halal? Hehehe), perjalanan ini adalah sangat sesuatu. :p
Baiklah, baiklah. Tidak berlama-lama untuk segera menengok anggunnya Dieng. Setelah mandi, sarapan dan mengisi perbekalan (baca ; minta uang) maka berangkatlah kami di pukul sembilan setengahnya pagi. Ada kami dengan ransel-ransel percaya diri dan harapan. Kata Fiqi, siapkan jaket tebal dan sepatu. Tapi saya lupa berinformasi. Maka lihatlah itu, ada Ka Nurman yang nyaman bersendal jepit ria tanpa menenteng jaket. Adalah Mas Ian, adik saya yang (sok) baik merentalkan jaketnya. Juga Dono dan Gembeng yang juga ikutikutan baik meminjamkan jaketnya. (Dua nama tersebut adalah nama adik saya yang disamarkan demi keamanan)
Marilah, Dieng sudah menanti untuk kita jajaki. Dan Ka Fiqi telah berjanji menjemput kami di Singomerto, pada suatu belokan menuju ke sana, pukul sepuluh setengah pagi. Kami mengikut bus, sementara Ka Aufa dan Ka Irfan (yang pada akhirnya kami sinyalir sebagai banci foto) berbonceng ria menggunakan motor. Sempat waswas kala dua manusia itu tak kunjung datang menyusul. Dan hei tahukah kau apa yang mereka perbuat? Baiklah, cobalah tengok pada foto di mana tiap tikungan mereka ambil gambar. Ckckckck,
Kami bertemu Ka Fiqi bersama mobil bak terbuka cihui yang pastinya akan menjadi pengantar kami berekspedisi. Histeris dan girang membayangkan kami akan menjadi penguasa di atasnya sepanjang jalan. Sambil berteriak dan berjingkrak agaknya. Lalu, kami meloncat bersemangat ke atasnya. Di sana, telah terhampar nyaman karpet beserta sesajen (baca ; makanan dan minuman). Wah, ini sih kosan namanya. Kurang tivi saja nih. (padahal kosan saya tak bertivi)
“Huwaaaaaa…!!!”
“Horeeeee…!!!”
“Aaaaaaaaa…!!!”
Dan seribu satu sorak kegirangan membahana di sepanjang perjalanan. Kami segera menjenguk Dieng. Maka, mulai berbisik di dalam hati, “Dieng, tunggu kami segera sampai.”
Ini udara segar kami jamahi. Pepohonan rindang kami nikmati. Senyum lebar kami pajang sepanjang jalan. Kami dadahdadah tak kenal malu pada setiap manusia yang kami lewati. Biarin, tak kenal inih. Hihihi. Apa lagi yang lebih membahagia selain detik itu? Maka lupakan sejenak apa itu kuliah. Juga proker dan raker dan tiker apalagi uler. Kami tengah bertapa dulu di sana, ketinggian yang tak kau kira. Dieng-lah namanya.
Kau pernah ke sana? Ke tempat yang telanjur bernama Dieng itu? Maka sayalah orangnya. Dan tak bosan meski kau ajak lagi nantinanti. Seratus, bahkan mungkin seribu kali pun hayuk. Itu lebaynya.
Menuju telaga warna juga telaga pengilon (yang artinya cermin) yang tak boleh bosan menjadi latar narsis kami. itu telaga mengapa banyak warna? Saya mencoba bertanya. Dan saya lupa apa itu jawaban yang saya dapat dari pak bos yang (semoga) memang pintar.
Ada juga si goagoa yang berserak di sanasini. Iya, sungguh banyak sekali. Tapi, kecilkecil dan tak dibuka bagi sembarang orang. Jika kau keturunan punakawan macam Semar atau Petruk, maka mungkin kau boleh masuk, bahkan jadi juru kuncinya. Namun, kami hanya menonton dan melongok dari luar, dan harus puas dengan hanya mengetahui nama si goa. Dan tentu saja, kenangkenangan dengan (lagilagi) menjepret diri di depannya.
Mari melanjut langkah. Di Dieng pun ada bioskop ternyata. Maka kami masuk ke dalamnya. Ada film diputar dan kami menonton bersandar pada kursi. Mendongak seakan menikmati. Padahal lamatlamat kami mulai mengaburkan diri dalam mimpi. Oh, enak sekali duduk di sini setelah lelah berjalan kaki. Ditemani sayup suara dari raksasanya tivi yang terus menyala di hadap kami. Tapi, bukan lalu kami mengaburkan info itu cumacuma. Ada yang kami tangkap tentu saja. Salah satunya? Si rambut gembel yang melegenda. Kau pernah dengar? Coba, ceritakan!
Si dieng itu cantik memang. Dan ruparupa yang mempesona. Kawahnya itu, yang tentu saja tak lelah mengepul hawa panas belerang. Kita membeli masker di sana. Dua ribu rupiah saja, yang saya dapat cumacuma dari manusia Solo. Lalu, apalagi selain berfotofoto. Bersama tiga pendatang baru ; makhluk dari rumah asri Ka Fiqi. Bagaimana jika setiap sudut kau abadikan dalam pose bersama wajahmu yang amburadul? Pede saja lah, yaaa…
Lelah tidak? Jangan tanya begitu pada orang yang tengah membahagia. Tak terasa saja langkah kaki kami membawa pada sore yang turun pasti. Kami memutuskan pulang, peraduan sementara di kediaman Ka Fiqi yang baik hati mau menampung tujuh gembel ini. Menampung dalam arti sebenarnya. Karena fakir miskin dipelihara oleh negara, bukan? Hehehehe. Jaminan nyenyak tidur dan perut kenyang, deh. Semoga rizki Allah senantiasa tercurah bagimu dan keluargamu, Ka Fiqi. ^_^
Itu candi dan museum bagaimana kabar? Ternyata kita sepakat untuk melewatkannya. Maafkan. Meski dari atas mobil kuasa kami dapat dengan jelas terlihat si candi yang kokoh, melatari aksiaksi manusia narsis lain. Ka Irfan bersuara, kasihan ibunda Ka Fiqi yang telah menyiapkan hidangan bagi kami. Benarbenar kamuflase dari perut lapar yang minta disegerakan makan. Dan, apa salahnya menghambur tawa. Untuk hari ini dan esok yang kami persiapkan berbahagia. Ini waktunya bercerita.
Malam diwarnai gelontoran kisah dan warnawarna. Bersama di ruang yang ada tivinya, ditemani makanan ruparupa, kami mengurai tawa lagilagi. Sehari itu pun, telah ada tujuh ratus foto terkumpul. Betapa banci fotonya kami semua. Ckckckckck,
“Bapak, putrane loro? Fiqi karo raine?”
Hahahahaha. Semoga kalian masih ingat apa arti percakapan tersebut. Lima jempol untuk Ka Romi yang senantiasa berani bercakap dengan beliau, bapak Ka Fiqi. Meski, bukankah sebaiknya kau les privat dulu dengan saya? Wkwkwkwkw
Dan paginya, Ka Fiqi berjanji membawa kami ke kebun salak. Sebuah bayangan menggiurkan melesak ke otak. Petik sendiri salakmu, langsung makan sepuasnya, jarah sebanyakbanyaknya. Maka, ayo cepat tidur karena esok pagi janji itu akan ditepati.
Pagi itu kami tak mandi. Buruburu minta segera sambangi si kebun salak. Dan, Ka Fiqi sendiri yang menjadi pengendara, membawa serta kami yang jingkrakjingkrak menuju rerimbun salak sebentar lagi. Berbekal celurit dan kardus, peralatan menjarah. Belumbelum, Ka Irfan sudah pesan satu kardus untuk dibawa pulang. Pecinta nol rupiah tentu saja kita ini.
Jeritjerit bagai beruk yang baru sekali melihat pisang. Kami berloncatan menyerbu tanah dengan rimbun salak di sanasini. Memperhatikan instruksi Ka Fiqi dan segera balas sambar itu celurit, mencoba praktek sendiri. Mulut di sanasini saling balas teriak, ingin mencoba memangkas (atau apa itu istilahnya) salak yang di sebelah sini. Lalu ada yang di sana. Kemudian menemukan lagi di situ. Di sana, di situ, sini, sono. Semua ingin dipetik. Apakah kau tak bangkrut dengan datangnya kami, Ka Fiqi? Semoga menambah berkahmu dan jadi ladang amalmu. :p
Ada syuting di kebun salak. Itu, Ka Romi sebagai emsi dengan mic celurit tajam. Purapura profesional mewawancarai kami. Padahal kan gueeee emsi kondangnya (dijitak Ka Irfan).
Kami memulangkan diri setelah mengepak oleholeh yang menggelayut tangan kami kanankiri. Menumpang lagi si mobil baik hati, kami menuju Banjarnegara. Mengantongi lelah dan syukur tak sudahsudah. Mengembriokan kembali titik selanjutnya yang akan kami kunjungi.
Terimakasih, telah mengunjungi kota saya dan hati saya di Banjarnegara.
So, ikan hiu mutermuter, see U later. :p
Benarbenar ingin mengunjungi Solo setelah ini. Bagaimana jika kita wujudkan? Turut mengundang kakakaka lain yang tentu akan menambah kadar ceria. ^_^