saya dan apa kabarnya mereka

Saya dan apa kabarnya mereka

Saya di Banjarnegara.
Tentu saja akan menjemput beberapa penggal masa lalu. Manis, pahit ada. Harus diterima apa adanya, mau tidak mau.
Maka saya menikmati saja. Bukan begitu?
Terjelang satu fakta di depan mata kala kaki menjejak kembali rumah terhangat kami. Saya di sulung, ternya beradik mereka yang mendewasa.
Lihat di sini, di sebelah kiri saya. Tertidur nyaman dhe ama, si kedua berusia dua puluh tahun. Menanti giliran OL, ia pun terlelap. Setelah tadi sempat bersama saya mengabdikan diri pada sang papi, mengambil jahitan baju. Mungkin baju lebaran. Mungkin juga baju dinas kebanggaan. Tak jelas. Karena kami tak bertanya banyak. Yang jelas, setelahnya kami korupsi terang-terangan itu uang kembalian. Membeli beberapa jajanan untuk pemenuh klukas (klukas, bukan kulkas. Saya lebih nyaman menyebut demikian)
Masih terngiang, bagaimana mami dengan sangat cerewet dan semangat menceramahi saya tadi pagi. Ayo merawat diri! Itu muka dibersihin! Dan bla bla bla rentet wejangannya. Belajarlah dari dhe ama yang sudah piawai merawat diri. Hahaha. Buset daaaah… Saya jadi merasa bocah sekali. Dan akhirnya, saya mandi. Sebelumnya saya maskerin ini muka, dan saya lulurin ini badan pakai punya dhe ama. Wkwkwkw
Iya, iya betul. Memang dhe ama lebih master lah dari saya. Alat permak wajahnya lengkap. Mau yang pagi, siang, malam, ada. Mau buat wajah, mata, bibir, badan, kaki, rambut, ada. Boleh lah saya belajar padanya. Toh saya juga wanita dewasa (katanya). Hahaha
Makin disadarkan saja, dhe ama mendewasa. Lalu saya? ^_^
Kemudian yang di sana, di kamar depan tengah terlelap tengkurap. Ada mas ian, si nomor tiga yang tingginya sekarang pun sudah tak kira-kira. Boncel sekali saya di sampingnya. Si mas ian yang ada di potret saya lima belas tahun lalu, tak sama lagi dengan sekarang. Suaranya menggelegar. Sorot mata bagai elang (hahaha). Belum lagi kalau adu jotos, saya tak lagi jadi pemenang. Sekali pelintir, saya mengaduh, meringis, mencubit. Sedang dia, terkekeh geli merasa menang si mba eka-nya dulu yang selalu adi kuasa, kini bisa dengan gampang ditangani.
Mas ian dengan delapan belas tahunnya. Bukan bocah lagi tentu saja. Kaki dan tangannya, telah berulang kali keluar-masuk hutan. Kemping di alam liar, sepertinya bukan jadi soal. Suka sekali melanglang buana. Apa itu penyebabmu masuk maritim? Semoga nanti mba eka boleh menumpang menuju Tokyo ya… hehe.
Makin disadarkan, mas ian pun mendewasa. Lalu saya? ^_^
Dan sedang tak berada di rumah, Adina istqomah si nomor empat yang haram saya panggil dina. Dengan sesuka hati, saya nobatkan namanya menjadi dono. Nama yang enak sekali untuk diucapkan. Tapi, tidak seenak ekspresinya saat saya memanggil demikian di depan teman-temannya. Bocah secantik itu dipanggil dono? Iya, dono memang cantik. Lebih cantik dari saya dan dhe ama katanya. Tapi bagi saya, saya tetap yang paling cantik di rumah. Tercantik dan terkucel. Hahaha
Dono sayang sudah hampir ber-KTP. Menjejak enam belas tahun sejak juli lalu (jika saya tak salah ingat). Gadis sangat dewasa tampaknya. Mengerti mode sangatsangat. Bajubajunya tak bertanding dengan yang saya pakai. Dia senang sekali meledek saya udik padahal telah berkuliah di paris van java. Saya terkikik saja. Senang asal dia senang. Hahaha
Toh saya memang begini, dono… mba eka-mu yang dulu masih seperti dulu. Ndak ngerti mode, kata mami juga. Tapi agaknya papi tak berkeberatan mba eka seperti ini saja. Wkwkwkwk. Bagaimanapun, saya suka dono yang begitu. Lumayan lah, buat seger-seger mata. Saya ndak bisa seperti itu, paling tidak, ada makhluk yang rada bersih dan terawat di rumah.
Panjang sekali tulisan saya di bagian dono. Padahal dia masih yang paling pendiam di rumah. Boleh lah nanti saya sambng lagi tentangnya.
Makin disadarkan, dono pun mendewasa. Lalu saya? ^_^
Sedang seperti ini, tiba-tiba ada sesosok yang hadir di belakang saya. Semula saya kira dono, dan ketika kepala saya benar-benar menengok, “Gembeeeeng…!!!” ternyata itu adalah si bontot di keluarga kami. Terlahir dengan nama indah Abadullah Fathoni, namun mendewasa dengan nama pemberian saya ; Gembeng. Apa pasal? Dulu gembeng sangat cengeng. Segala hal bisa jadi penyebab ia menangis (tanpa air mata) meraung-raung di hadapan kami. Namun sekarang tentu tak lagi. Bahkan sempat terkaget, suara si gembeng berubah menjadi besar! Haha, saya takjub lagi. Dulu, paling tidak waktu saya pulang terakhir januari lalu, suaranya masih bersisa imut-imut. Tapi kini? Okelah, gembeng… kamu hampir dewasa.
Dan pipimu, sepertinya tak lagi boleh sebagai landasan bebas bibir-bibir jahil kami. Kamu tak lagi bias dipeluk-peluk bebas. Tapi biarlah, saya masih mau biasa saja. Toh kamu masih bontot kami… Sampai nanti SMA, sampai nanti kuliah, kecuali kalau kamu sudah menikah.
Haha, gembeng… kau pun mendewasa. Lalu mba eka? ^_^
Ah, baiklah… sudah terjelang ashar. Mari solat. Lalu berangkat ke suatu tempat…

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.