bapak semangat

Sebelum saya melupakan kisah ini, lebih baik saya mengetikkannya sebentar. Hei, saya akan segera berangkat ke kampus. Untuk apalagi kalau bukan kuliah? Siang ini saya kuliah choukai. Hm, semoga saja kedatangan kami ke kampus tidak sia-sia. Ya, maksudnya, semoga saja mata kuliah choukai kali ini tidak (lagi) kosong. Walau sesekali kami suka jika ada mata kuliah yang kosong, tapi jika hal itu berlangsung berkali-kali, bukankah bosan juga? Untuk apa kami disebut pembelajar jika kami jarang belajar? Dan untuk apa mereka disebut pengajar jika jarang mengajar? Haha. Sarkastik yah.

Ngomong-ngomong tentang belajar, saya jadi teringat pengalaman kami tadi siang saat bertemu dan diwawancari seorang Bapak yang tengah menulis disertasi untuk S3nya. Saya salut. Salut sekali dengan kegigihan beliau mendapatkan data dan informasi dari kami. Hei, beliau tak lagi bisa disebut muda. Tapi semangatnya luar biasa! Bayangkan saja, kita yang masih terhitung kuat dan belia saja belum tentu sesemangat beliau dalam belajar, apalagi mengerjakan tugas. Tapi semangat dan motivasinya patut kita acungi jempol dan jadikan teladan. Beliau mewawancarai kami, para mahasiswa. Tentu saja bukan hanya seorang dua orang. Dan bukan hanya pada satu tempat. Tapi harus berkeliling. Butuh tenaga dan pikiran ekstra bukan?

Berkali-kali berkesempatan berdialog dengan lelaki sepuh, saya teringat ayah saya. Bangga sekali rasanya memiliki ayah yang sangat tinggi dedikasinya dalam belajar. Hm, mungkin ayah saya juga akan seperti beliau jika saya berkesempatan melanjutkan S3nya. Ah, saya lupa. S2 saja ayah saya tak sempat, apalagi S3. Tapi, ada sedikit harapan kelak dapat menghadiahi beliau merasakan kembali menuntut ilmu. Meski mungkin hanya menamatkan S2.*mungkinkah?

Bapak itu sangat bijaksana dan berwawasan luas. Beliau menanyakan mengenai mata kuliah umum di universitas kami. Mengenai seberapa besar kontribusi mata kuliah tersebut, dan kesan kami terhadapnya. Dan mengalirlah argumen-argumen serta kesan yang jujur saja baru kali ini kami lontarkan dengan lugas dan terang-terangan kepada (dalam hal ini dapat disebut) pihak dosen. Beliau mendengarkan dengan seksama. Percakapan kami direkamnya dengan sebuah tape recorder. Ah, betapa sahajanya beliau. Kembali saya teringat ayah saya di kampung. Beliau juga sama berwawasannya dengan bapak di depan saya. Dan sama juga bijaksananya.

Kami, mungkin hanya saya saja, senang sekali berkesempatan berdialog dengan sang bapak. Saya seperti termotivasi. Termotivasi untuk tidak berhenti belajar. Hei, dalam hal ini, sungguh-sungguh kesediaan beliau untuk mengejar ilmu, tak dapat dianggap enteng. Banyak faktor di usia beliau yang dapat menghambat mobilitas dan kegiatan. Usia, misalnya. Tentu saja, sangat aneh melihat beliau yang pasti sudah berusia lebih dari 50 tahun, berjalan hilir-mudil dengan semangatnya, mencari mahasiswa-mahasiswa sebagai narasumbernya. Dari satu fakultas ke fakultas yang lain. Dari satu jurusan ke jurusan yang lain. Dan dari segerombol mahasiswa menuju mahasiswa yang lain. Pekerjaan yang repot kan? Bandingkan saja dengan kita yang masih muda ini saja seringkali melalai dan menganggap enteng tugas. Belum lagi gelayutan sifat malas yang menghantui hari-hari perkuliahan. Tapi beliau, potret teladan bagi kita. Bahwa kerja keras, membuahkan hasil yang manis. Dan satu lagi, siapa bilang usia jadi penghambat prestasi?

Iri dan bangga sekali jika mata ini menangkap sosok-sosok yang tak lagi muda tengah sibuk berdiskusi dengan sesama mahasiswa. Usia tua tak menghalangi sorot cemerlang dan semangat menyala. Ya, mereka para ibu dan Bapak pasca-sarjana. Dengan gagah menyandang tas besar, sarat bekal ilmu. Ah, suatu saat saya juga ingin seperti mereka.

Mungkin ada sebagian orang yang beranggapan bahwa memang sudah sepantasnya kita melakukan hal itu. Dalam hal ini, si bapak yang sedang menyelesaikan disertasinya memang sudah sepantasnya melakukan kerja keras tersebut untuk dapat lulus. Oke, memang benar sekali. Itu teorinya. Namun, tengoklah. Di luar sana ternyata banyak (bahkan orang-orang terdekat kita) yang dengan gampangnya membeli disertasi atau tesis dan bahkan skripsi demi kelulusannya. Jadi, banyak orang yang tak lagi peduli dengan  kerja keras sebagai syarat kelulusan tersebut. Tinggal rogoh kocek, dan jadilah anda sarjana. Dan jadilah anda master. Satu hal lagi membuktikan, bahwa tak semua orang “sempat” untuk melakukan “kewajiban” ini. Dan beliau tak mengindahkan semua kemudahan-kemudahan itu untuk memperlancar kelulusannya. Beliau tetap selangkah demi selangkah meraih kesuksesan. Hal ini benar-benar membuka mata saya, tak ada kata berhenti untuk berusaha dan belajar.

Masih terbayang dalam ingatan saya, bagaimana beliau dengan santunnya izin mewawancarai kami. Kemudian tanpa sungkan turut berbaur dalam lingkaran kami dan mendengarkan setiap kalimat yang kami lontarkan. Kemudian, dengan sikap yang amat kebapakan beliau menautkan kesimpulan atas apa yang telah kami unek-unekan. Dan tentu saja sedikit wejangan untuk senantiasa tak bosannya berusaha. Seperti beliau, yang beliau katakan, “Bapak mah gak pinter, cuma Bapak terus mencoba.” Begitulah kira-kira tuturnya sahaja.

Semoga Bapak diberi kelancaran jalan. Dan senang sekali dapat berkuliah dengan Bapak hari ini.

Maukah Anda kalah semangat dengan beliau? Saya rasa tidak.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.