Bencong “Dasar bencong!” umpatan itu kembali menggaung di telinga Yopi. Yopi memandang segerombol lelaki itu, nanar. Yang sekian menit lalu lontarkan umpatan keji itu padanya. “Hei, Yopi! Ayo!” bayangan Gandhi yang mengajaknya bermain futsal kembali mengusik. “Ah, percuma lu ajak si bencong! Mana mau dia ikut main futsal?! Ngajak dia tuh meni-pedi, pasti mau! Dasar bencong!” cemooh Radif dari belakang punggung Gandhi. Gandhi mendengus. Mengangkat bahu, kemudian berlalu meninggalkannya menuju gerombolan lelaki lain. Lagi-lagi, sia-sia sudah usahanya mengajak Yopi bergabung dengan “lelaki” seperti mereka. Bahu Yopi lunglai. Kepalanya menunduk. Meski, bukan sekali ini umpatan itu mendarat padanya, tetap sakit kala lagi dan lagi menimpuk hatinya. Bencong. Ia melangkah pergi meninggalkan hati-hati yang telanjur sering memberinya stempel hitam pada ingatannya. — “Ih, nonton deh film Cinta. Uhuhu, so sweeeettt… Pasti lu terharu deh. Gue aja nyampe nangis.” Yopi berkata berapi-api. Ia tengah bersama Nindi, Sila, Lestari, dan Vida, teman-teman wanita di kelasnya, ramai membincangkan film romantik yang tengah digandrungi akhir-akhir ini. “Iya, Pi! Bener banget. Sumpah, gue sesenggukan nonton itu. Romantis…” Vida ikut berkomentar, tak mau kalah heboh. “Berasa gue yang jadi Cintanya…!!!” tambah Sila. “Si China ganteng sangaaat!” Nindi histeris. Semuanya bertambah heboh. Jejeritan saling menimpali komentar satu sama lain. Di belakang mereka, gerombolan Radif tersenyum sinis. “Liat tuh, si bencong. Obrolannya amit-amit banget. Gak ada bedanya sama cewek. Film romantis lah, tempat belanja murah, lah…” mulut Radif gatel berkomentar. “Iya. Apalagi kalo bukan bencong namanya.” tambah Dadi. “Dasar bencong!” Radif melewati Yopi dan yang lain sembari agak mengeraskan volume suaranya. Sejenak obrolan Yopi terhenti. Dihelanya nafas. “Bencong.” kata-kata itu kembali menggaung. Kepalanya tertunduk. Seberapa sering pun kata-kata itu didengarnya, tetap terasa sakit ketika mendengarnya terlontar lagi untuk kesekian kalinya. “Udah, biarin aja, Pi! Si Radif emang mulutnya belatungan!” hibur Lestari, mengelus pundaknya penuh simpati. Yopi diam saja. Mencoba membenamkan amarah yang selalu saja ingin membuncah tiap kali mulut tak kenal aturan Radif mencecarinya kata-kata tak berbudi itu. Yopi Mereka mengataiku bencong. Tapi aku bukan bencong! Sungguh! Aku tak suka pakai rok! Aku bahkan tak pernah memikirkan untuk memakai rok! Aku hanya tak merokok. Dan aku tak main futsal seperti kebanyakan teman lelakiku. Dan aku tak suka naik motor. Lebih tepatnya, tak bisa. Dan aku tak ingin repot-repot belajar mengemudinya agar bisa. Karena aku lebih suka memakai bis kota. Lebih leluasa untuk bercengkrama dan tidur selama perjalanan. Juga untuk menikmati keindahan pemandangan sepanjang jalan. Aku suka musik. Dan aku mencintai film. Aku juga menyukai tari. Bisa kuhabiskan waktu berjam-jam mengurung diri di kamar, bernyanyi lagu yang kusuka. Aku suka film percintaan, film romantik. Film yang menurut Radif dan gerombolannya “film cengeng”. Bagiku film-film itu tak cengeng. Film-film itu hanya terlalu dalam menceritakan kisahnya sehingga kita yang menonton dibuat terhanyut. Dan Radif terlalu berlebihan menyebut film-film itu cengeng. Ia hanya belum mencoba menontonnya. Dan taruhan, jika ia menonton salah satu dari film yang kusuka, pasti ia pun ikut terharu, dan menangis, dan jadi suka. Aku bisa menari. Ya. Apa salahnya lelaki bisa menari? Menurutku, itu sah saja. Kau pikir tari itu sebatas yang memakai sinjang dan kain di dadanya dan selendang dan sanggul, heh? Kalau begitu, bisa jadi kau yang bodoh. Aku bisa menarikan berbagi tarian ksatria yang sama sekali tidak gemulai. Bahkan gagah. Kau tahu?! Maka berhentilah memanggilku “bencong”! Bisa jadi kau yang bencong karena tak pernah punya nyali untuk menunjukkan kemampuanmu. Kau hanya bermulut besar, hai si belatung Radif! — “Coba deh baca novel Galaksi Kinanthi. Bagus banget tau, Tar!” “Oya?” “Itu teh nyeritain Kinanthi yang ambisius. Tadinya tuh dia dari kampung, trus sekolah tinggi, akhirnya tinggal di Amerika. Di desanya tuh dia punya cowok yang ditaksir dari kecil. Dia yang bikin si Kinanthi bertahan dan meraih mimpi-mimpinya. Pokoknya keren, lah.” Yopi menceritakan dengan wajah berapi-api disertai mata melotot saking antusiasnya. Lestari berjalan di sampingnya sambil mendengarkan dengan cermat tiap kata yang meluncur dari mulut Yopi. “Trus, novel Ronggeng Dukuh Paruk.” tambah Yopi. “Karya Ahmad Thohari?” timpal Lestari ikut antusias. “Iya. Aku suka banget gaya bahasanya yang bersahaja.” Yopi semakin menggebu-gebu. “Iya. Kisahnya hidup.” balas Lestari. “Suka Laskar Pelangi?” Yopi buka suara lagi. Lestari mengangguk tersenyum. “Tapi lebih suka Sang Pemimpi.” “Aku lebih suka Laskar Pelangi. Itu aku banget pas masih kecil, Tar!” mata Yopi menerawang. “Oya?” mata Lestari membulat. Yopi mengangguk. Matanya masih menerawang. Menelanjangi angkasa. “Jadi kangen temen-temen SD.” ucap Yopi lirih. Kini menunduk. “Mereka semua…yang baik padaku.” lanjutnya. Sedikit ada perih. Lestari mendekat. Menepuk bahu Yopi pelan. “Yang saat ini kau alami adalah yang terbaik.” ucapnya tulus. Yopi Aku sudah benar-benar menutup mata dan telinga terhadap apa yang Radif lakukan padaku. Terakhir ia memfitnahku. Ia membuat surat cinta palsu untuk Dharma, lelaki pendiam di kelasku, dan mengatakan bahwa surat itu dariku. Dan kau tahu apa artinya itu? Seluruh penghuni kelas, bahkan hampir satu sekolah menganggapku HOMO setelah kejadian itu. Oke. Aku memang tidak macho atau berotot seperti Radif. Bahkan satu-satunya olahraga yang aku bisa hanyalah bulu tangkis. Aku memang tak banyak memiliki teman lelaki. Aku lebih suka berkumpul dan berdiskusi dengan para wanita. Karena mereka lembut, baik, sopan, dan sangat pengertian. Tapi, bukan berarti aku menyukai sesama pria! Aku lelaki normal. Aku lelaki biasa yang mendambakan nantinya dapat memiliki seorang wanita yang bisa berbagi apapun denganku. Seperti apapun mereka memandangku, sumpah mati aku lelaki normal. Tetapi sudah kutekadkan bahwa aku tak akan terlalu mengambil pusing dengan apa yang gerombolan Radif skenariokan untukku. Kau tahu, kadang-kadang kita memang harus kelewat cuek menghadapi orang seperti itu. Sebab jika sekali saja kita menanggapi, itu seolah penyemangat bagi mereka untuk melanjutkan aksi-aksi keji selanjutnya. Jadi, tutup mata, tutup telinga, tutup hati. — “Hei, Yopi. Kau bawa bekal makan?” sapa Lestari pagi ini. “Tentu. Aku bikin tempe orek dan oseng buncis.” sahut Yopi sembari memamerkan kotak bekal makannya. Lestari tersenyum dan segera mengambil tempat duduk di sampingnya. “Asiiiiiiikkk… Nanti aku nyobain, yah!” pintanya. “Siiiiiiip…..!!! Satu sendok seribu perak!” balas Yopi. “Jaaaah… Yopi pelit…!!!” dan mereka berdua tergelak. Diam-diam ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari suatu jarak. — Yopi Ia baik. Memang ia tak terlalu cantik. Tapi ia lembut, juga bijaksana, juga dewasa, juga ceria. Aku senang berlama-lama di sampingnya. Mengobrolkan berbagai macam tema. Mulai dari keseharian dan sekolah yang biasa-biasa saja terjalani, film, novel, musik, artis, bahkan seringnya berpusat pada pembahasan betapa semakin menyebalkannya gerombolan Radif dan teman-temannya itu. Tapi, biasanya kami hanya menanggapi dengan tawa. Kata-kata pedas Radif tak lagi mengoyak hatiku. Itu hanya menjadi satu tema panas obrolanku dan Lestari saat pulang sekolah. Hari-hari menjadi terasa semakin ringan dengan begini. Ya, adanya dia di sampingku membuat aku lebih percaya diri. Ia teman yang sangat baik. Ia sangat bisa diandalkan di saat seperti apapun. Membangun kepercayaan diriku dengan senyum yang selalu dihaturkannya kala aku ragu. Mendorong keberanianku dan meyakinkan bahwa setiap manusia hakekatnya sama. Maka dengan sendirinya aku berkeyakinan, bahwa apapun aku, sepanjang aku tak salah dan tak melakukan dosa, maka lakukanlah. Aku menyayanginya, tentu. Bahkan sehari pun tak ingin lepas darinya. Obrolan kami bisa jadi sangat panjang tiap kalinya. Seringkali aku dibuat terpaksa mampir ke rumahnya karena merasa obrolan kami belum cukup tuntas. Dan kami melanjutkannya hingga lewat senja. Tentu dengan janji untuk besok bertemu lagi. Dan keceriaan itu terus berlanjut. Aku tak lagi merasa ada yang kurang dengan diriku. Justru aku bersyukur menjadi Yopi yang seperti ini. Aku bisa mengenalnya. Aku bisa menyimpannya di hatiku, meski ia tak tahu. Lestariku. — “Hei, bencong!” kali ini bukan suara Radif, tapi suara Dadi. Sedang Radif diam saja berjalan menekur lantai sembari mengantongkan kedua tangannya rapat-rapat ke saku celana. Mulutnya terlihat tak berselera mencemooh Yopi yang tengah asik berceloteh ria dengan Lestari. “Si Radif kenapa?” Lestari heran, berbisik pada Yopi. Keduanya kini mencuri pandang tak mengerti pada sosok Radif yang tiba-tiba berbalik menatap mereka dengan sorot mata menohok. Keduanya buru-buru mengalihkan mata ke tempat lain. “Entah, Tar. Mungkin saja ia sudah bosan menghinaku. Semoga saja…” Yopi tersenyum. “Iya, semoga saja… Akhir-akhir ini ia sudah tak lagi berselera mencacimu.” Lestari terkikik. Keanehan Radif tak berhenti sampai di situ. Hari berikutnya, mulut dan mata Radif benar-benar seolah sudah cuti menghina Radif. Bahkan, ketika anak buahnya sudah mulai bosan dengan kediaman bosnya dan mereka mulai gatal kembali menghina Yopi, Radif menggertak ganas. “Hei! Buat apa lu gangguin dia? Buang-buang waktu aja!” hardik Radif pada kawanannya yang kembali beraksi mengusili Yopi. Ia lebih suka menatap aneh pada Yopi dan Lestari dari kejauhan. Bukan hanya anak buahnya yang dibuat terbengong. Yopi dan Lestari pun tak mengerti. Namun, terselip doa dan pengharapan di hati Yopi. Semoga itu adalah titik mula hubungan baik mereka. Dan Yopi menyimpan niat, esok hari akan mengajak Radif berteman, secara perlahan. Bukankah itu lebih menyenangkan? — Dan kertas bertuliskan huruf-huruf semrawut itu ia temukan di dalam amplop terbuat dari koran, dalam tas sekolahnya. Yopi manis, Maafkan atas perbuatanku selama ini. Bukan maksudku untuk menyakiti hatimu. Sungguh, aku hanya tak suka kau terlihat selalu dekat dengan gadis itu. Ya, kau tahu, Lestari itu. Meski kalian bilang tak ada hubungan apa-apa, toh tetap saja kalian sering sekali terlihat asik berdua. Aku hanya ingin kalian terpisah. Dan kau bergabung bersama kami, sehingga aku bisa dekat denganmu. Aku suka kau yang lucu, manis, dan lembut itu. Yopi manis, Aku harap kau mengerti apa yang kurasakan. Dan alangkah senangnya jika kau pun sama halnya denganku. Sekali lagi, maafkan aku. Salam manis, Radif Yopi hampir saja pingsan membaca nama si pengirim. Radif? Radif? Radif? Apa maksudnya ini? Bayangan silih berganti berputar di kepalanya. Perubahan sikap Radif. Radif yang berubah bersikap dingin padanya. Radif yang mendadak jadi pendiam. Radif yang tak lagi berselera mencacinya. Apakah ini penyebabnya? Kepala Yopi pening. Jadi, siapa yang bencong???
11 Oct