<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>ellugyopz</title>
	<atom:link href="http://annisaoktaviana.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://annisaoktaviana.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 Nov 2011 13:40:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='annisaoktaviana.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>ellugyopz</title>
		<link>http://annisaoktaviana.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://annisaoktaviana.wordpress.com/osd.xml" title="ellugyopz" />
	<atom:link rel='hub' href='http://annisaoktaviana.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/11/15/250/</link>
		<comments>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/11/15/250/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Nov 2011 13:40:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>annisa Oktaviana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annisaoktaviana.wordpress.com/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya, saya berniat membuat blog lagi. Pasalnya, blog ini terlalu banyak berisi karya yang padat dan berat. Artinya, tak ada postingan ringanringan seperti yang tengah saya ketik ini. Semuanya bertema, semuanya dipersiapkan, semuanya tampak indah. Tidak seperti ini yang hadir dan ditulis sertamerta, saat ini juga, tanpa persiapan terlalulalu. Mungkin saya rindu dengan nuansa tulisan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisaoktaviana.wordpress.com&amp;blog=10078026&amp;post=250&amp;subd=annisaoktaviana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya, saya berniat membuat blog lagi. Pasalnya, blog ini terlalu banyak berisi karya yang padat dan berat. Artinya, tak ada postingan ringanringan seperti yang tengah saya ketik ini. Semuanya bertema, semuanya dipersiapkan, semuanya tampak indah. Tidak seperti ini yang hadir dan ditulis sertamerta, saat ini juga, tanpa persiapan terlalulalu. Mungkin saya rindu dengan nuansa tulisan yang begini. Dan, tersadarkan oleh beberapa blog yang akhirakhir ini rajin saya baca, serupa blog Bapak Rahardian, sang dosen ITB punya. Beliau, bisa memangsa pembaca dalam jumlah wow setiap harinya, &#8220;hanya&#8221; dengan postingan ringan khas seharihari kita. Apa yang beliau lihat di pagi hari, apa makan siang beliau hari itu, acara yang beliau ikuti, kegiatan idul adha di sekitar rumah, bahkan kemacetan si Bandung tempat bernaung. Meski ringan dan lugas, tetap inspiratif. Nah, saya juga ingin begitu. Jadi maksudnya, saya ingin tampil dengan gaya baru, pada blog baru, dan insya Allah pembaca baru yang semoga saja bisa serupa pembaca beliau.</p>
<p>Alangkah senangnya jika itu benarbenar bisa terrealisasi. Sayang eh sayang, entah karena saya yang gaptek, ketika saya bikin blog di wordpress kok ada hitunghitungan dollarnya. Saya degdegan tuh. Siapa tahu bayar beneran, bagaimana coba? Maka, dua kali saya gagal bikin blog anyar di wordpress. Padahal wordpress asik sekali untuk ngeblog. Nyaman dan gampang. Hahaha</p>
<p>Jadi, nyampahlah kembali saya di sini. Belum mampu dan belum tahu untuk membuka si blog baru. Hm&#8230;</p>
<p>Tapi, mungkin nanti atau besok, saya menelurkan si blog baru. Untuk saya isi sesuatu yang baru, dengan gaya yang baru.<br />
Cekidot! ^_^</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/annisaoktaviana.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/annisaoktaviana.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/annisaoktaviana.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/annisaoktaviana.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/annisaoktaviana.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/annisaoktaviana.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/annisaoktaviana.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/annisaoktaviana.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/annisaoktaviana.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/annisaoktaviana.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/annisaoktaviana.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/annisaoktaviana.wordpress.com/250/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/annisaoktaviana.wordpress.com/250/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/annisaoktaviana.wordpress.com/250/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisaoktaviana.wordpress.com&amp;blog=10078026&amp;post=250&amp;subd=annisaoktaviana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/11/15/250/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99cb0e9d38ef9109004e5c2a582995fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">viannisa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>meski idul adha</title>
		<link>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/11/04/meski-idul-adha/</link>
		<comments>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/11/04/meski-idul-adha/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Nov 2011 16:34:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>annisa Oktaviana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annisaoktaviana.wordpress.com/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[Assalamualaikum, hai pemirsa alam maya! Saya di sini saja, kamar kosan nyaman serabutan. Padahal ini malam Sabtu. Dan tentu saja besok libur tanpa kuliah. Apalagi Ahad adalah hari kambing sedunia, atau si idul adha yang tiba. Gerlong tempat tinggal saya tiga tahun ini, gosipnya mulai sepi dari manusiamanusianya yang berbondongbondong mudik. Pertama kalinya sejak tiga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisaoktaviana.wordpress.com&amp;blog=10078026&amp;post=247&amp;subd=annisaoktaviana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamualaikum, hai pemirsa alam maya!</p>
<p>Saya di sini saja, kamar kosan nyaman serabutan. Padahal ini malam Sabtu. Dan tentu saja besok libur tanpa kuliah. Apalagi Ahad adalah hari kambing sedunia, atau si idul adha yang tiba. Gerlong tempat tinggal saya tiga tahun ini, gosipnya mulai sepi dari manusiamanusianya yang berbondongbondong mudik.</p>
<p>Pertama kalinya sejak tiga kali idul adha lalu, saya benarbenar ingin pulang. Merasa tak rela saja menyaksikan temanteman ringan kaki melangkahkan diri menuju rumah, pelabuhan hati nan indah. Sementara, hei saya di sini saja lho tiap kali idul adha tibaaaa. Tapi, biasanya saya tak merasa sekosong ini. Tahuntahun lalu pun saya beridul adha ria di Bandung saja. Di kosan saja. Bersama merekamereka, mahluk kosan yang tak begitu tergiur mudik. Lalu kami menyatenyate dong. Dan hurahura lah. Juga nyanyinyanyi hepi sampai pagi. Sumpah! Itu kenangan indah.</p>
<p>Baiklah, si oknumoknum terkait kini sudah enyah. Si Ableh mantan sejoli kamar, Sinchan kawan menggila sampai pagi, Melia bocah sekampung, Triyono si cablak, bahkan Enyak dan Mami. Ini fase merindu kalian tampaknya.</p>
<p>Lalu saya mencoba menghibur diri. Karena memang sebenarnya tak ada yang menyedihkan. Hanya kondisi yang sedikit saja berubah. Baiklah, dulu bersamasama. Dan kini, hidup kita bedabeda, warnawarna, katanya penuh citacita. Lagi seruserunya berkarya.</p>
<p>Merindu romo.</p>
<p>Merindu orang rumah.</p>
<p>Merindu si awan cerah.</p>
<p>Merindu barisbaris tawa.</p>
<p>Merindu nyamannya hati.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Idul Adha ini, biarkan berbeda, dan nikmati bedanya.</p>
<p>Salam hei kalian yang mudamuda!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/annisaoktaviana.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/annisaoktaviana.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/annisaoktaviana.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/annisaoktaviana.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/annisaoktaviana.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/annisaoktaviana.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/annisaoktaviana.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/annisaoktaviana.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/annisaoktaviana.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/annisaoktaviana.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/annisaoktaviana.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/annisaoktaviana.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/annisaoktaviana.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/annisaoktaviana.wordpress.com/247/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisaoktaviana.wordpress.com&amp;blog=10078026&amp;post=247&amp;subd=annisaoktaviana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/11/04/meski-idul-adha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99cb0e9d38ef9109004e5c2a582995fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">viannisa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>bikin teh, yuk!</title>
		<link>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/10/14/bikin-teh-yuk/</link>
		<comments>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/10/14/bikin-teh-yuk/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2011 16:16:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>annisa Oktaviana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annisaoktaviana.wordpress.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[Jumat, 14 Oktober 2011 &#160; Hai, saya baru saja memulangkan diri setelah seharian berlayar di luar. Ya, setelah tadi mulai melangkah pukul tujuh pagi (oke, telat setengah jam) menuju TK Al Hasanah tercinta. Tempat sekarang saya bisa bertemu dengan manusia-manusia kerdil tersayang. Ada Fatah, Biyu, Eko, Akmal, Andrian, Faiz, Dika, Jingga, Tiara, Lala, Imeh, dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisaoktaviana.wordpress.com&amp;blog=10078026&amp;post=245&amp;subd=annisaoktaviana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jumat, 14 Oktober 2011</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hai, saya baru saja memulangkan diri setelah seharian berlayar di luar. Ya, setelah tadi mulai melangkah pukul tujuh pagi (oke, telat setengah jam) menuju TK Al Hasanah tercinta. Tempat sekarang saya bisa bertemu dengan manusia-manusia kerdil tersayang. Ada Fatah, Biyu, Eko, Akmal, Andrian, Faiz, Dika, Jingga, Tiara, Lala, Imeh, dan yang lainnya. Terhitung lima minggu, sampai hari ini, saya (bisa dibilang) menjadi guru di sana, teman si anak-anak manis itu.</p>
<p>Menunggu Jumat, salah satu hal yang membuat saya bersemangat. Ya, kembali berkumpul dengan wajah-wajah ceria penuh gelak tawa itu. Rasanya, tak lagi ada alasan untuk bersusah hati. Mereka akan dengan sukses membuat hati kita berbunga-bunga. Pun tadi pagi ketika saya sempat merasa sedikit pusing. Sedikit ragu akan kemaksimalan saya hari ini. Tapi, mujrab sekali senyum dan suara makhluk mungil itu. Begitu saya melangkahkan kaki ke dalam kelas, mereka bersegera menyerbu tangan saya mengajak bersalaman. Seketika rasa tak enak yang sedari tadi menggelayut, musnah terganti pekik bahagia, menyahut satu-satu salam mereka. Dan setelah itu, senyum saya pun tak sudah-sudah.</p>
<p>Berada di sekeliling anak-anak yang senantiasa polos dan memancarkan keceriaan, agaknya menjadi obat mujarab segala bentuk ketidakenakan hati. Benarlah itu. Apapun yang tengah mengganggu pikiranmu. Maka, ketika kau berada di tengah mereka, energi positif itu akan kembali menjalari tubuhmu, dan segarkan otakmu. So, menyenangkan sekali berada di tengah-tengah makhluk mungil seperti mereka.</p>
<p>Hari ini, kami membuat teh. Adik-adik sangat antusias ketika saya mengajarkan tepuk bikin teh. Ya, semua materi dan lagu-lagu yang saya praktekkan di TK ini memang saya adaptasi langsung dari apa yang saya dapat selama di PAS (Pembinaan Anak-anak Salman) ITB. Mereka, membawa gelas plastik dan sendok, sebagai persiapan membuat teh. Menyaksikan binar-binar mata mereka yang cemerlang sembari dengan bangga memamerkan gelas masing-masing, siapa yang tak bahagia? Si anak-anak itu, benar-benar sudah siap dan sangat semangat, ingin tahu bagaimana caranya membuat teh. Dan jadilah&#8230;.kita praktek bikin teh!</p>
<p>ambil cangkir,</p>
<p>isi air,</p>
<p>celupcelup,</p>
<p>kasih gula,</p>
<p>adukaduk, adukaduk, adukaduk,</p>
<p>minum deeeeeeh&#8230;.</p>
<p>Satu-satu adik-adik praktek didampingi kita tentu saja. Mulai dari menuang air panas (yang telah menjadi hangat setelah dicampur air ingin) ke dalam gelas, mencelupkan teh, memberi gula, sampai mengaduk-aduknya, adik-adik lakukan sendiri dengan semangat dan tertib. Senaaaaaaaang&#8230;..sekali melihat itu. Ada rasa bangga dan puas tentu saja. Setelah itu, teh manis buatan mereka yang sedianya kami maksudkan untuk mereka berikan pada ibu atau siapapun yang mengantar mereka ke sekolah, malah mereka habiskan sendiri. Hihihi, lucu sekali. Maka, jadilah si teh manis hangat itu pelengkap agenda makan istirahat mereka. Hohoho, tak ketinggalan, kami paa ibu guru pun turut meramu teh manis, dan menikmatinya di sela obrolan hangat.</p>
<p>Hari ini, sama istimewanya dengan Jumat-jumat lalu, ketika tawa-tawa kalian mulai melingkupi hidup saya.</p>
<p>Terima kasih, adik-adik&#8230;.</p>
<p>Sampai jumpa Jumat depan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/annisaoktaviana.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/annisaoktaviana.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/annisaoktaviana.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/annisaoktaviana.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/annisaoktaviana.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/annisaoktaviana.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/annisaoktaviana.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/annisaoktaviana.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/annisaoktaviana.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/annisaoktaviana.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/annisaoktaviana.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/annisaoktaviana.wordpress.com/245/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/annisaoktaviana.wordpress.com/245/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/annisaoktaviana.wordpress.com/245/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisaoktaviana.wordpress.com&amp;blog=10078026&amp;post=245&amp;subd=annisaoktaviana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/10/14/bikin-teh-yuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99cb0e9d38ef9109004e5c2a582995fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">viannisa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>menabung</title>
		<link>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/10/13/menabung/</link>
		<comments>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/10/13/menabung/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 13:03:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>annisa Oktaviana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annisaoktaviana.wordpress.com/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[Kamis, 13 Oktober 2011 Satu tema yang menjadi bahan kuliah kita tadi pagi. Adalah sakubun, mata kuliah yang bisa dengan gamblang diartikan sebagai &#8220;mengarang&#8221;, hari ini membiarkan kita untuk berkutat dengan tema &#8220;menabung&#8221;. Hooo, tentu saja teman-teman sudah tak asing dengan satu kata ini. Iya, kan? Oke, tak asing bukan berarti akrab dengan kegiatan ini, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisaoktaviana.wordpress.com&amp;blog=10078026&amp;post=243&amp;subd=annisaoktaviana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kamis, 13 Oktober 2011</p>
<p>Satu tema yang menjadi bahan kuliah kita tadi pagi. Adalah sakubun, mata kuliah yang bisa dengan gamblang diartikan sebagai &#8220;mengarang&#8221;, hari ini membiarkan kita untuk berkutat dengan tema &#8220;menabung&#8221;. Hooo, tentu saja teman-teman sudah tak asing dengan satu kata ini. Iya, kan? Oke, tak asing bukan berarti akrab dengan kegiatan ini, bukan? Saya yakin, masih ada dari kita yang jauh dari kebiasaan ini. Saya salah satunya. Nah, di mata kuliah sakubun tadi, kita diminta untuk menuliskan pendapat kita. Apakah kita termasuk orang yang gemar menabung untuk masa depan, atau mempergunakan uang tersebut untuk hal-hal yang kita inginkan di masa sekarang. Intinya, apakah kita mempergunakan uang itu untuk jangka panjang, atau jangka pendek.</p>
<p>Walau saya bukan aliran orang yang gemar menabung, sedikit kaget ketika hanya tujuh orang dari empat puluh mahasiswa di kelas yang membiasakan diri menabung. Yang lainnya, termasuk saya, adalah alirang yang ogah menabung, atau dengan kata lain, suka mempergunakan uang untuk kebutuhan masa kini.</p>
<p>Menabung. Sebenarnya saya rindu dengan istilah tersebut. Mengingat sudah lama sekali saya tak lagi mempraktekkannya. Dulu, saat saya masih SD, saya dibiasakan oleh romo untuk selalu menyisihkan uang saku, dan menyimpannya di BANK, sebulan sekali. Untuk ukuran zaman itu, saya menabung minimal lima puluh ribu rupiah per bulannya. Jumlah yang lumayan besar. Apalagi saya sering dibiarkan untuk menyetorkan sendiri uang tersebut ke BANK. Dan saya akan menikmati orang-orang yang takjub melihat saya, bocah SD, menabung sendiri dengan gagahnya. Tapi, entah sejak kapan kebiasaan baik itu lenyap. Mungkin seriring dengan mendewasanya saya, romo pun semakin sibuk, dan tak lagi sempat untuk mengingatkan saya akan pentingnya menabung. Alhasil, jadilah saya yang tak lagi ingat untuk apa menabung. Dan kebiasaan itu, lenyap benar-benar.</p>
<p>Bagaimana dengan teman-teman? Apakah teman-teman masih setia dengan menabung? Atau sama seperti saya, yang sudah lupa pentingnya menabung?</p>
<p>Saya memang tak lagi menabung di BANK, dalam jangka waktu panjang. Namun, saya masih berusaha untuk berhemat. Seringkali, jika ada benda yang saya butuhkan (saya hanya membeli barang yang saya butuhkan, bukan inginkan) saya akan mengambil uang saku saya untuk saya belikan itu benda, dan selanjutnya saya akan menghemat untuk mengganti si uang itu. Caranya? Tentu saja dengan menghemat ala anak kos ; mengurangi jatah makan. Ingin sekali memiliki uang sendiri agar jika saya ada barang yang butuh dibeli, tak usah merengek pada romo yang dasarnya sudah terengah-engah membiayai hidup kami. Suatu saat, semoga&#8230;</p>
<p>Tentu saja ada keinginan untuk kembali menabung, setelah tema tadi terhadirkan. Menyadarkan kembali saya, dan teman-teman di kelas juga, bahwa menabung itu penting ; mau tak mau. Karena, memang tak akan terduga akan seperti apa masa depan kita. Tentu saja si tabungan akan sagat dapat berperan untuk hal-hal tak terduga itu. Apa itu sekolah, menikah, keperluan keluarga, dan lainnya. Namun, jika saat ini kita butuh membeli barang, ya jangan sayang juga untuk mengeluarkan si uang.</p>
<p>Karena toh intinya, kita menabung adalah untuk mencukupi kebutuhan yang penting. Jadi, meski kita menabung baru dua bulan, tapi kita sudah butuh untuk membeli kamera, ya beli saja. Toh jika itu dirasa perlu untuk saat ini, untuk apa menunggu nanti. Iya, kan? Intinya, sesuaikan pengeluaran itu dengan kebutuhanmu. Jangan karena alasan menabung, lalu mengesampingkan kebutuhan saat ini. Tidak baik juga, kan? Kita mempersiapkan masa depan kita dengan masa kini yang kosong. Toh, kalau ada rezeki, bukan tak mungkin di masa mendatang Allah akan mencukupkan lagi.</p>
<p>Jadi, menabung atau tak menabung, yang penting hemat. ^_^</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/annisaoktaviana.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/annisaoktaviana.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/annisaoktaviana.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/annisaoktaviana.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/annisaoktaviana.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/annisaoktaviana.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/annisaoktaviana.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/annisaoktaviana.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/annisaoktaviana.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/annisaoktaviana.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/annisaoktaviana.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/annisaoktaviana.wordpress.com/243/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/annisaoktaviana.wordpress.com/243/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/annisaoktaviana.wordpress.com/243/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisaoktaviana.wordpress.com&amp;blog=10078026&amp;post=243&amp;subd=annisaoktaviana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/10/13/menabung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99cb0e9d38ef9109004e5c2a582995fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">viannisa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>bencong</title>
		<link>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/10/11/bencong/</link>
		<comments>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/10/11/bencong/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2011 16:20:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>annisa Oktaviana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annisaoktaviana.wordpress.com/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[Bencong “Dasar bencong!” umpatan itu kembali menggaung di telinga Yopi. Yopi memandang segerombol lelaki itu, nanar. Yang sekian menit lalu lontarkan umpatan keji itu padanya. “Hei, Yopi! Ayo!” bayangan Gandhi yang mengajaknya bermain futsal kembali mengusik. “Ah, percuma lu ajak si bencong! Mana mau dia ikut main futsal?! Ngajak dia tuh meni-pedi, pasti mau! Dasar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisaoktaviana.wordpress.com&amp;blog=10078026&amp;post=241&amp;subd=annisaoktaviana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bencong “Dasar bencong!” umpatan itu kembali menggaung di telinga Yopi. Yopi memandang segerombol lelaki itu, nanar. Yang sekian menit lalu lontarkan umpatan keji itu padanya. “Hei, Yopi! Ayo!” bayangan Gandhi yang mengajaknya bermain futsal kembali mengusik. “Ah, percuma lu ajak si bencong! Mana mau dia ikut main futsal?! Ngajak dia tuh meni-pedi, pasti mau! Dasar bencong!” cemooh Radif dari belakang punggung Gandhi. Gandhi mendengus. Mengangkat bahu, kemudian berlalu meninggalkannya menuju gerombolan lelaki lain. Lagi-lagi, sia-sia sudah usahanya mengajak Yopi bergabung dengan “lelaki” seperti mereka. Bahu Yopi lunglai. Kepalanya menunduk. Meski, bukan sekali ini umpatan itu mendarat padanya, tetap sakit kala lagi dan lagi menimpuk hatinya. Bencong. Ia melangkah pergi meninggalkan hati-hati yang telanjur sering memberinya stempel hitam pada ingatannya. &#8212; “Ih, nonton deh film Cinta. Uhuhu, so sweeeettt… Pasti lu terharu deh. Gue aja nyampe nangis.” Yopi berkata berapi-api. Ia tengah bersama Nindi, Sila, Lestari, dan Vida, teman-teman wanita di kelasnya, ramai membincangkan film romantik yang tengah digandrungi akhir-akhir ini. “Iya, Pi! Bener banget. Sumpah, gue sesenggukan nonton itu. Romantis…” Vida ikut berkomentar, tak mau kalah heboh. “Berasa gue yang jadi Cintanya…!!!” tambah Sila. “Si China ganteng sangaaat!” Nindi histeris. Semuanya bertambah heboh. Jejeritan saling menimpali komentar satu sama lain. Di belakang mereka, gerombolan Radif tersenyum sinis. “Liat tuh, si bencong. Obrolannya amit-amit banget. Gak ada bedanya sama cewek. Film romantis lah, tempat belanja murah, lah…” mulut Radif gatel berkomentar. “Iya. Apalagi kalo bukan bencong namanya.” tambah Dadi. “Dasar bencong!” Radif melewati Yopi dan yang lain sembari agak mengeraskan volume suaranya. Sejenak obrolan Yopi terhenti. Dihelanya nafas. “Bencong.” kata-kata itu kembali menggaung. Kepalanya tertunduk. Seberapa sering pun kata-kata itu didengarnya, tetap terasa sakit ketika mendengarnya terlontar lagi untuk kesekian kalinya. “Udah, biarin aja, Pi! Si Radif emang mulutnya belatungan!” hibur Lestari, mengelus pundaknya penuh simpati. Yopi diam saja. Mencoba membenamkan amarah yang selalu saja ingin membuncah tiap kali mulut tak kenal aturan Radif mencecarinya kata-kata tak berbudi itu. Yopi Mereka mengataiku bencong. Tapi aku bukan bencong! Sungguh! Aku tak suka pakai rok! Aku bahkan tak pernah memikirkan untuk memakai rok! Aku hanya tak merokok. Dan aku tak main futsal seperti kebanyakan teman lelakiku. Dan aku tak suka naik motor. Lebih tepatnya, tak bisa. Dan aku tak ingin repot-repot belajar mengemudinya agar bisa. Karena aku lebih suka memakai bis kota. Lebih leluasa untuk bercengkrama dan tidur selama perjalanan. Juga untuk menikmati keindahan pemandangan sepanjang jalan. Aku suka musik. Dan aku mencintai film. Aku juga menyukai tari. Bisa kuhabiskan waktu berjam-jam mengurung diri di kamar, bernyanyi lagu yang kusuka. Aku suka film percintaan, film romantik. Film yang menurut Radif dan gerombolannya “film cengeng”. Bagiku film-film itu tak cengeng. Film-film itu hanya terlalu dalam menceritakan kisahnya sehingga kita yang menonton dibuat terhanyut. Dan Radif terlalu berlebihan menyebut film-film itu cengeng. Ia hanya belum mencoba menontonnya. Dan taruhan, jika ia menonton salah satu dari film yang kusuka, pasti ia pun ikut terharu, dan menangis, dan jadi suka. Aku bisa menari. Ya. Apa salahnya lelaki bisa menari? Menurutku, itu sah saja. Kau pikir tari itu sebatas yang memakai sinjang dan kain di dadanya dan selendang dan sanggul, heh? Kalau begitu, bisa jadi kau yang bodoh. Aku bisa menarikan berbagi tarian ksatria yang sama sekali tidak gemulai. Bahkan gagah. Kau tahu?! Maka berhentilah memanggilku “bencong”! Bisa jadi kau yang bencong karena tak pernah punya nyali untuk menunjukkan kemampuanmu. Kau hanya bermulut besar, hai si belatung Radif! &#8212; “Coba deh baca novel Galaksi Kinanthi. Bagus banget tau, Tar!” “Oya?” “Itu teh nyeritain Kinanthi yang ambisius. Tadinya tuh dia dari kampung, trus sekolah tinggi, akhirnya tinggal di Amerika. Di desanya tuh dia punya cowok yang ditaksir dari kecil. Dia yang bikin si Kinanthi bertahan dan meraih mimpi-mimpinya. Pokoknya keren, lah.” Yopi menceritakan dengan wajah berapi-api disertai mata melotot saking antusiasnya. Lestari berjalan di sampingnya sambil mendengarkan dengan cermat tiap kata yang meluncur dari mulut Yopi. “Trus, novel Ronggeng Dukuh Paruk.” tambah Yopi. “Karya Ahmad Thohari?” timpal Lestari ikut antusias. “Iya. Aku suka banget gaya bahasanya yang bersahaja.” Yopi semakin menggebu-gebu. “Iya. Kisahnya hidup.” balas Lestari. “Suka Laskar Pelangi?” Yopi buka suara lagi. Lestari mengangguk tersenyum. “Tapi lebih suka Sang Pemimpi.” “Aku lebih suka Laskar Pelangi. Itu aku banget pas masih kecil, Tar!” mata Yopi menerawang. “Oya?” mata Lestari membulat. Yopi mengangguk. Matanya masih menerawang. Menelanjangi angkasa. “Jadi kangen temen-temen SD.” ucap Yopi lirih. Kini menunduk. “Mereka semua…yang baik padaku.” lanjutnya. Sedikit ada perih. Lestari mendekat. Menepuk bahu Yopi pelan. “Yang saat ini kau alami adalah yang terbaik.” ucapnya tulus. Yopi Aku sudah benar-benar menutup mata dan telinga terhadap apa yang Radif lakukan padaku. Terakhir ia memfitnahku. Ia membuat surat cinta palsu untuk Dharma, lelaki pendiam di kelasku, dan mengatakan bahwa surat itu dariku. Dan kau tahu apa artinya itu? Seluruh penghuni kelas, bahkan hampir satu sekolah menganggapku HOMO setelah kejadian itu. Oke. Aku memang tidak macho atau berotot seperti Radif. Bahkan satu-satunya olahraga yang aku bisa hanyalah bulu tangkis. Aku memang tak banyak memiliki teman lelaki. Aku lebih suka berkumpul dan berdiskusi dengan para wanita. Karena mereka lembut, baik, sopan, dan sangat pengertian. Tapi, bukan berarti aku menyukai sesama pria! Aku lelaki normal. Aku lelaki biasa yang mendambakan nantinya dapat memiliki seorang wanita yang bisa berbagi apapun denganku. Seperti apapun mereka memandangku, sumpah mati aku lelaki normal. Tetapi sudah kutekadkan bahwa aku tak akan terlalu mengambil pusing dengan apa yang gerombolan Radif skenariokan untukku. Kau tahu, kadang-kadang kita memang harus kelewat cuek menghadapi orang seperti itu. Sebab jika sekali saja kita menanggapi, itu seolah penyemangat bagi mereka untuk melanjutkan aksi-aksi keji selanjutnya. Jadi, tutup mata, tutup telinga, tutup hati. &#8212; “Hei, Yopi. Kau bawa bekal makan?” sapa Lestari pagi ini. “Tentu. Aku bikin tempe orek dan oseng buncis.” sahut Yopi sembari memamerkan kotak bekal makannya. Lestari tersenyum dan segera mengambil tempat duduk di sampingnya. “Asiiiiiiikkk… Nanti aku nyobain, yah!” pintanya. “Siiiiiiip…..!!! Satu sendok seribu perak!” balas Yopi. “Jaaaah… Yopi pelit…!!!” dan mereka berdua tergelak. Diam-diam ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari suatu jarak. &#8212; Yopi Ia baik. Memang ia tak terlalu cantik. Tapi ia lembut, juga bijaksana, juga dewasa, juga ceria. Aku senang berlama-lama di sampingnya. Mengobrolkan berbagai macam tema. Mulai dari keseharian dan sekolah yang biasa-biasa saja terjalani, film, novel, musik, artis, bahkan seringnya berpusat pada pembahasan betapa semakin menyebalkannya gerombolan Radif dan teman-temannya itu. Tapi, biasanya kami hanya menanggapi dengan tawa. Kata-kata pedas Radif tak lagi mengoyak hatiku. Itu hanya menjadi satu tema panas obrolanku dan Lestari saat pulang sekolah. Hari-hari menjadi terasa semakin ringan dengan begini. Ya, adanya dia di sampingku membuat aku lebih percaya diri. Ia teman yang sangat baik. Ia sangat bisa diandalkan di saat seperti apapun. Membangun kepercayaan diriku dengan senyum yang selalu dihaturkannya kala aku ragu. Mendorong keberanianku dan meyakinkan bahwa setiap manusia hakekatnya sama. Maka dengan sendirinya aku berkeyakinan, bahwa apapun aku, sepanjang aku tak salah dan tak melakukan dosa, maka lakukanlah. Aku menyayanginya, tentu. Bahkan sehari pun tak ingin lepas darinya. Obrolan kami bisa jadi sangat panjang tiap kalinya. Seringkali aku dibuat terpaksa mampir ke rumahnya karena merasa obrolan kami belum cukup tuntas. Dan kami melanjutkannya hingga lewat senja. Tentu dengan janji untuk besok bertemu lagi. Dan keceriaan itu terus berlanjut. Aku tak lagi merasa ada yang kurang dengan diriku. Justru aku bersyukur menjadi Yopi yang seperti ini. Aku bisa mengenalnya. Aku bisa menyimpannya di hatiku, meski ia tak tahu. Lestariku. &#8212; “Hei, bencong!” kali ini bukan suara Radif, tapi suara Dadi. Sedang Radif diam saja berjalan menekur lantai sembari mengantongkan kedua tangannya rapat-rapat ke saku celana. Mulutnya terlihat tak berselera mencemooh Yopi yang tengah asik berceloteh ria dengan Lestari. “Si Radif kenapa?” Lestari heran, berbisik pada Yopi. Keduanya kini mencuri pandang tak mengerti pada sosok Radif yang tiba-tiba berbalik menatap mereka dengan sorot mata menohok. Keduanya buru-buru mengalihkan mata ke tempat lain. “Entah, Tar. Mungkin saja ia sudah bosan menghinaku. Semoga saja…” Yopi tersenyum. “Iya, semoga saja… Akhir-akhir ini ia sudah tak lagi berselera mencacimu.” Lestari terkikik. Keanehan Radif tak berhenti sampai di situ. Hari berikutnya, mulut dan mata Radif benar-benar seolah sudah cuti menghina Radif. Bahkan, ketika anak buahnya sudah mulai bosan dengan kediaman bosnya dan mereka mulai gatal kembali menghina Yopi, Radif menggertak ganas. “Hei! Buat apa lu gangguin dia? Buang-buang waktu aja!” hardik Radif pada kawanannya yang kembali beraksi mengusili Yopi. Ia lebih suka menatap aneh pada Yopi dan Lestari dari kejauhan. Bukan hanya anak buahnya yang dibuat terbengong. Yopi dan Lestari pun tak mengerti. Namun, terselip doa dan pengharapan di hati Yopi. Semoga itu adalah titik mula hubungan baik mereka. Dan Yopi menyimpan niat, esok hari akan mengajak Radif berteman, secara perlahan. Bukankah itu lebih menyenangkan? &#8212; Dan kertas bertuliskan huruf-huruf semrawut itu ia temukan di dalam amplop terbuat dari koran, dalam tas sekolahnya. Yopi manis, Maafkan atas perbuatanku selama ini. Bukan maksudku untuk menyakiti hatimu. Sungguh, aku hanya tak suka kau terlihat selalu dekat dengan gadis itu. Ya, kau tahu, Lestari itu. Meski kalian bilang tak ada hubungan apa-apa, toh tetap saja kalian sering sekali terlihat asik berdua. Aku hanya ingin kalian terpisah. Dan kau bergabung bersama kami, sehingga aku bisa dekat denganmu. Aku suka kau yang lucu, manis, dan lembut itu. Yopi manis, Aku harap kau mengerti apa yang kurasakan. Dan alangkah senangnya jika kau pun sama halnya denganku. Sekali lagi, maafkan aku. Salam manis, Radif Yopi hampir saja pingsan membaca nama si pengirim. Radif? Radif? Radif? Apa maksudnya ini? Bayangan silih berganti berputar di kepalanya. Perubahan sikap Radif. Radif yang berubah bersikap dingin padanya. Radif yang mendadak jadi pendiam. Radif yang tak lagi berselera mencacinya. Apakah ini penyebabnya? Kepala Yopi pening. Jadi, siapa yang bencong???</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/annisaoktaviana.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/annisaoktaviana.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/annisaoktaviana.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/annisaoktaviana.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/annisaoktaviana.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/annisaoktaviana.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/annisaoktaviana.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/annisaoktaviana.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/annisaoktaviana.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/annisaoktaviana.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/annisaoktaviana.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/annisaoktaviana.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/annisaoktaviana.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/annisaoktaviana.wordpress.com/241/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisaoktaviana.wordpress.com&amp;blog=10078026&amp;post=241&amp;subd=annisaoktaviana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/10/11/bencong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99cb0e9d38ef9109004e5c2a582995fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">viannisa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>bapak semangat</title>
		<link>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/10/11/bapak-semangat/</link>
		<comments>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/10/11/bapak-semangat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2011 10:51:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>annisa Oktaviana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annisaoktaviana.wordpress.com/?p=239</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum saya melupakan kisah ini, lebih baik saya mengetikkannya sebentar. Hei, saya akan segera berangkat ke kampus. Untuk apalagi kalau bukan kuliah? Siang ini saya kuliah choukai. Hm, semoga saja kedatangan kami ke kampus tidak sia-sia. Ya, maksudnya, semoga saja mata kuliah choukai kali ini tidak (lagi) kosong. Walau sesekali kami suka jika ada mata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisaoktaviana.wordpress.com&amp;blog=10078026&amp;post=239&amp;subd=annisaoktaviana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelum saya melupakan kisah ini, lebih baik saya mengetikkannya sebentar. Hei, saya akan segera berangkat ke kampus. Untuk apalagi kalau bukan kuliah? Siang ini saya kuliah choukai. Hm, semoga saja kedatangan kami ke kampus tidak sia-sia. Ya, maksudnya, semoga saja mata kuliah choukai kali ini tidak (lagi) kosong. Walau sesekali kami suka jika ada mata kuliah yang kosong, tapi jika hal itu berlangsung berkali-kali, bukankah bosan juga? Untuk apa kami disebut pembelajar jika kami jarang belajar? Dan untuk apa mereka disebut pengajar jika jarang mengajar? Haha. Sarkastik yah.</p>
<p>Ngomong-ngomong tentang belajar, saya jadi teringat pengalaman kami tadi siang saat bertemu dan diwawancari seorang Bapak yang tengah menulis disertasi untuk S3nya. Saya salut. Salut sekali dengan kegigihan beliau mendapatkan data dan informasi dari kami. Hei, beliau tak lagi bisa disebut muda. Tapi semangatnya luar biasa! Bayangkan saja, kita yang masih terhitung kuat dan belia saja belum tentu sesemangat beliau dalam belajar, apalagi mengerjakan tugas. Tapi semangat dan motivasinya patut kita acungi jempol dan jadikan teladan. Beliau mewawancarai kami, para mahasiswa. Tentu saja bukan hanya seorang dua orang. Dan bukan hanya pada satu tempat. Tapi harus berkeliling. Butuh tenaga dan pikiran ekstra bukan?</p>
<p>Berkali-kali berkesempatan berdialog dengan lelaki sepuh, saya teringat ayah saya. Bangga sekali rasanya memiliki ayah yang sangat tinggi dedikasinya dalam belajar. Hm, mungkin ayah saya juga akan seperti beliau jika saya berkesempatan melanjutkan S3nya. Ah, saya lupa. S2 saja ayah saya tak sempat, apalagi S3. Tapi, ada sedikit harapan kelak dapat menghadiahi beliau merasakan kembali menuntut ilmu. Meski mungkin hanya menamatkan S2.*mungkinkah?</p>
<p>Bapak itu sangat bijaksana dan berwawasan luas. Beliau menanyakan mengenai mata kuliah umum di universitas kami. Mengenai seberapa besar kontribusi mata kuliah tersebut, dan kesan kami terhadapnya. Dan mengalirlah argumen-argumen serta kesan yang jujur saja baru kali ini kami lontarkan dengan lugas dan terang-terangan kepada (dalam hal ini dapat disebut) pihak dosen. Beliau mendengarkan dengan seksama. Percakapan kami direkamnya dengan sebuah tape recorder. Ah, betapa sahajanya beliau. Kembali saya teringat ayah saya di kampung. Beliau juga sama berwawasannya dengan bapak di depan saya. Dan sama juga bijaksananya.</p>
<p>Kami, mungkin hanya saya saja, senang sekali berkesempatan berdialog dengan sang bapak. Saya seperti termotivasi. Termotivasi untuk tidak berhenti belajar. Hei, dalam hal ini, sungguh-sungguh kesediaan beliau untuk mengejar ilmu, tak dapat dianggap enteng. Banyak faktor di usia beliau yang dapat menghambat mobilitas dan kegiatan. Usia, misalnya. Tentu saja, sangat aneh melihat beliau yang pasti sudah berusia lebih dari 50 tahun, berjalan hilir-mudil dengan semangatnya, mencari mahasiswa-mahasiswa sebagai narasumbernya. Dari satu fakultas ke fakultas yang lain. Dari satu jurusan ke jurusan yang lain. Dan dari segerombol mahasiswa menuju mahasiswa yang lain. Pekerjaan yang repot kan? Bandingkan saja dengan kita yang masih muda ini saja seringkali melalai dan menganggap enteng tugas. Belum lagi gelayutan sifat malas yang menghantui hari-hari perkuliahan. Tapi beliau, potret teladan bagi kita. Bahwa kerja keras, membuahkan hasil yang manis. Dan satu lagi, siapa bilang usia jadi penghambat prestasi?</p>
<p>Iri dan bangga sekali jika mata ini menangkap sosok-sosok yang tak lagi muda tengah sibuk berdiskusi dengan sesama mahasiswa. Usia tua tak menghalangi sorot cemerlang dan semangat menyala. Ya, mereka para ibu dan Bapak pasca-sarjana. Dengan gagah menyandang tas besar, sarat bekal ilmu. Ah, suatu saat saya juga ingin seperti mereka.</p>
<p>Mungkin ada sebagian orang yang beranggapan bahwa memang sudah sepantasnya kita melakukan hal itu. Dalam hal ini, si bapak yang sedang menyelesaikan disertasinya memang sudah sepantasnya melakukan kerja keras tersebut untuk dapat lulus. Oke, memang benar sekali. Itu teorinya. Namun, tengoklah. Di luar sana ternyata banyak (bahkan orang-orang terdekat kita) yang dengan gampangnya membeli disertasi atau tesis dan bahkan skripsi demi kelulusannya. Jadi, banyak orang yang tak lagi peduli dengan  kerja keras sebagai syarat kelulusan tersebut. Tinggal rogoh kocek, dan jadilah anda sarjana. Dan jadilah anda master. Satu hal lagi membuktikan, bahwa tak semua orang “sempat” untuk melakukan “kewajiban” ini. Dan beliau tak mengindahkan semua kemudahan-kemudahan itu untuk memperlancar kelulusannya. Beliau tetap selangkah demi selangkah meraih kesuksesan. Hal ini benar-benar membuka mata saya, tak ada kata berhenti untuk berusaha dan belajar.</p>
<p>Masih terbayang dalam ingatan saya, bagaimana beliau dengan santunnya izin mewawancarai kami. Kemudian tanpa sungkan turut berbaur dalam lingkaran kami dan mendengarkan setiap kalimat yang kami lontarkan. Kemudian, dengan sikap yang amat kebapakan beliau menautkan kesimpulan atas apa yang telah kami unek-unekan. Dan tentu saja sedikit wejangan untuk senantiasa tak bosannya berusaha. Seperti beliau, yang beliau katakan, “Bapak mah gak pinter, cuma Bapak terus mencoba.” Begitulah kira-kira tuturnya sahaja.</p>
<p>Semoga Bapak diberi kelancaran jalan. Dan senang sekali dapat berkuliah dengan Bapak hari ini.</p>
<p>Maukah Anda kalah semangat dengan beliau? Saya rasa tidak.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/annisaoktaviana.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/annisaoktaviana.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/annisaoktaviana.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/annisaoktaviana.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/annisaoktaviana.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/annisaoktaviana.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/annisaoktaviana.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/annisaoktaviana.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/annisaoktaviana.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/annisaoktaviana.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/annisaoktaviana.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/annisaoktaviana.wordpress.com/239/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/annisaoktaviana.wordpress.com/239/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/annisaoktaviana.wordpress.com/239/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisaoktaviana.wordpress.com&amp;blog=10078026&amp;post=239&amp;subd=annisaoktaviana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/10/11/bapak-semangat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99cb0e9d38ef9109004e5c2a582995fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">viannisa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dieng Abode</title>
		<link>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/09/17/dieng-abode/</link>
		<comments>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/09/17/dieng-abode/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Sep 2011 13:28:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>annisa Oktaviana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annisaoktaviana.wordpress.com/?p=236</guid>
		<description><![CDATA[sebuah catatan perjalanan Dieng Abode-nya 3-4September 2011 &#160; Berawal dari gagasan Ka Nurman dan Ka Aufa, serta sedikit campur tangan saya, dan tentu saja Ka Fiqi sebagai tuan rumah (baca ; tukang sedia penginapan dan makanan, juga penunjuk jalan). Maka, berangkatlah kami menuju ke sana, tanah nun jauh di atas bukit, bahkan pegunungan. Ya, kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisaoktaviana.wordpress.com&amp;blog=10078026&amp;post=236&amp;subd=annisaoktaviana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>sebuah catatan perjalanan</p>
<p>Dieng Abode-nya 3-4September 2011</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berawal dari gagasan Ka Nurman dan Ka Aufa, serta sedikit campur tangan saya, dan tentu saja Ka Fiqi sebagai tuan rumah (baca ; tukang sedia penginapan dan makanan, juga penunjuk jalan). Maka, berangkatlah kami menuju ke sana, tanah nun jauh di atas bukit, bahkan pegunungan. Ya, kita lagaknya Sun Go Kong, mendaki Dieng Abode.</p>
<p>Jika kau punya gagasan, maka simpanlah dan genggam erat. Yakini saja bahwa itu akan benarbenar tercapai. Seperti kita yang menganganangan menapak Dieng setelah idul fitri ini. Maka jadilah.</p>
<p>Maka, hadirlah peserta pertama di sana, Ka Nurman yang langsung diimport dari Solo. Pukul sepuluh malam kala itu, saya menjemput beliau yang tak saya percayai ; benarbenar hadir di depan mata saya. Ka Nurman di Banjarnegara! Kota yang selama ini hanya saya gaungkan di kuping kakakaka. Lalu menyusullah peserta berikutnya, Ka Aufa yang membawa serta Ka Rifki yang diculik dengan senang hati dari Tegal. Mereka memakai motor. Luar biasa sekali ya. Subhanallah ya (Syahrini punya gaya). Kala itu, tepat tengah malam. Eksperia kedua kembali terjadi. Dua makhluk itu di kota saya! Welcome to Banjarnegara. Maka, bagaimana senyum saya tak lebar malam itu. Tiga orang mangsa telah terjerumus di Banjarnegara. Menanti mangsa keempat dan kelima yang gosipnya akan tiba subuh ini. Dialah Ka Romi dan Ka Irfan yang tak sehati berangkat dari Bandung. Ka Irfan yang tak sabar dan sampai hati meninggalkan Ka Romi seorang diri mengarungi jalanan dari Bandung menuju Banjarnegara. Sementara Ka Irfan menumpang nyamannya bus Budiman ber-AC ria dari magrib, Ka Romi harus puas dengan nikmatnya bus ekonomi tiga jam setelahnya. Tidak apa. Toh, Ka Irfan menapak Banjarnegara saat subuh tiba, dan Ka Romi di pukul delapan. Seorang lagi, itu adalah orang yang kami nantikan teramat sangat. Namun, jarak dan waktu agaknya membuat otak berputar kembali untuk sampai hati meneruskan niat menyambangi Banjarnegara. Maka, berat hati dalam hati membilang, “Sayang sekali, Dut…”</p>
<p>Tapi, bukankah ekspedisi harus tetap berlanjut? Dan inilah kami, delapan manusia menggagahi Dieng Abode. Kau tahu apakah itu Abode? Itu bermakna selayaknya tempat di nirwana. Hahaha. Kami seolah dewa, begitu. Lihat, lihat, ada saya, Ka Fiqi si tuan rumah, Ka Nurman, Ka Aufa, Ka Rifki, Ka Irfan, Ka Romi, dan guest star pak bos yang katanya dari Gombong, dan nyangkut ke Banjarnegara, dan dipaksa melanjutkan cerita bersama kita. Belum ke Banjarnegara namanya, kalau belum menjamah Dieng. Itu iming-iming kami. Dan menurut sajalah beliau. Tentu saja tidak dengan membawa sesal setelahnya. Karena, berani taruhan yang halal (memang ada taruhan yang halal? Hehehe), perjalanan ini adalah sangat sesuatu. :p</p>
<p>Baiklah, baiklah. Tidak berlama-lama untuk segera menengok anggunnya Dieng. Setelah mandi, sarapan dan mengisi perbekalan (baca ; minta uang) maka berangkatlah kami di pukul sembilan setengahnya pagi. Ada kami dengan ransel-ransel percaya diri dan harapan. Kata Fiqi, siapkan jaket tebal dan sepatu. Tapi saya lupa berinformasi. Maka lihatlah itu, ada Ka Nurman yang nyaman bersendal jepit ria tanpa menenteng jaket. Adalah Mas Ian, adik saya yang (sok) baik merentalkan jaketnya. Juga Dono dan Gembeng yang juga ikutikutan baik meminjamkan jaketnya. (Dua nama tersebut adalah nama adik saya yang disamarkan demi keamanan)</p>
<p>Marilah, Dieng sudah menanti untuk kita jajaki. Dan Ka Fiqi telah berjanji menjemput kami di Singomerto, pada suatu belokan menuju ke sana, pukul sepuluh setengah pagi. Kami mengikut bus, sementara Ka Aufa dan Ka Irfan (yang pada akhirnya kami sinyalir sebagai banci foto) berbonceng ria menggunakan motor. Sempat waswas kala dua manusia itu tak kunjung datang menyusul. Dan hei tahukah kau apa yang mereka perbuat? Baiklah, cobalah tengok pada foto di mana tiap tikungan mereka ambil gambar. Ckckckck,</p>
<p>Kami bertemu Ka Fiqi bersama mobil bak terbuka cihui yang pastinya akan menjadi pengantar kami berekspedisi. Histeris dan girang membayangkan kami akan menjadi penguasa di atasnya sepanjang jalan. Sambil berteriak dan berjingkrak agaknya. Lalu, kami meloncat bersemangat ke atasnya. Di sana, telah terhampar nyaman karpet beserta sesajen (baca ; makanan dan minuman). Wah, ini sih kosan namanya. Kurang tivi saja nih. (padahal kosan saya tak bertivi)</p>
<p>“Huwaaaaaa…!!!”</p>
<p>“Horeeeee…!!!”</p>
<p>“Aaaaaaaaa…!!!”</p>
<p>Dan seribu satu sorak kegirangan membahana di sepanjang perjalanan. Kami segera menjenguk Dieng. Maka, mulai berbisik di dalam hati, “Dieng, tunggu kami segera sampai.”</p>
<p>Ini udara segar kami jamahi. Pepohonan rindang kami nikmati. Senyum lebar kami pajang sepanjang jalan. Kami dadahdadah tak kenal malu pada setiap manusia yang kami lewati. Biarin, tak kenal inih. Hihihi. Apa lagi yang lebih membahagia selain detik itu? Maka lupakan sejenak apa itu kuliah. Juga proker dan raker dan tiker apalagi uler. Kami tengah bertapa dulu di sana, ketinggian yang tak kau kira. Dieng-lah namanya.</p>
<p>Kau pernah ke sana? Ke tempat yang telanjur bernama Dieng itu? Maka sayalah orangnya. Dan tak bosan meski kau ajak lagi nantinanti. Seratus, bahkan mungkin seribu kali pun hayuk. Itu lebaynya.</p>
<p>Menuju telaga warna juga telaga pengilon (yang artinya cermin) yang tak boleh bosan menjadi latar narsis kami. itu telaga mengapa banyak warna? Saya mencoba bertanya. Dan saya lupa apa itu jawaban yang saya dapat dari pak bos yang (semoga) memang pintar.</p>
<p>Ada juga si goagoa yang berserak di sanasini. Iya, sungguh banyak sekali. Tapi, kecilkecil dan tak dibuka bagi sembarang orang. Jika kau keturunan punakawan macam Semar atau Petruk, maka mungkin kau boleh masuk, bahkan jadi juru kuncinya. Namun, kami hanya menonton dan melongok dari luar, dan harus puas dengan hanya mengetahui nama si goa. Dan tentu saja, kenangkenangan dengan (lagilagi) menjepret diri di depannya.</p>
<p>Mari melanjut langkah.  Di Dieng pun ada bioskop ternyata. Maka kami masuk ke dalamnya. Ada film diputar dan kami menonton bersandar pada kursi. Mendongak seakan menikmati. Padahal lamatlamat kami mulai mengaburkan diri dalam mimpi. Oh, enak sekali duduk di sini setelah lelah berjalan kaki. Ditemani sayup suara dari raksasanya tivi yang terus menyala di hadap kami. Tapi, bukan lalu kami mengaburkan info itu cumacuma. Ada yang kami tangkap tentu saja. Salah satunya? Si rambut gembel yang melegenda. Kau pernah dengar? Coba, ceritakan!</p>
<p>Si dieng itu cantik memang. Dan ruparupa yang mempesona. Kawahnya itu, yang tentu saja tak lelah mengepul hawa panas belerang. Kita membeli masker di sana. Dua ribu rupiah saja, yang saya dapat cumacuma dari manusia Solo. Lalu, apalagi selain berfotofoto. Bersama tiga pendatang baru ; makhluk dari rumah asri Ka Fiqi. Bagaimana jika setiap sudut kau abadikan dalam pose bersama wajahmu yang amburadul? Pede saja lah, yaaa…</p>
<p>Lelah tidak? Jangan tanya begitu pada orang yang tengah membahagia. Tak terasa saja langkah kaki kami membawa pada sore yang turun pasti. Kami memutuskan pulang, peraduan sementara di kediaman Ka Fiqi yang baik hati mau menampung tujuh gembel ini. Menampung dalam arti sebenarnya. Karena fakir miskin dipelihara oleh negara, bukan? Hehehehe. Jaminan nyenyak tidur dan perut kenyang, deh. Semoga rizki Allah senantiasa tercurah bagimu dan keluargamu, Ka Fiqi. ^_^</p>
<p>Itu candi dan museum bagaimana kabar? Ternyata kita sepakat untuk melewatkannya. Maafkan. Meski dari atas mobil kuasa kami dapat dengan jelas terlihat si candi yang kokoh, melatari aksiaksi manusia narsis lain. Ka Irfan bersuara, kasihan ibunda Ka Fiqi yang telah menyiapkan hidangan bagi kami. Benarbenar kamuflase dari perut lapar yang minta disegerakan makan. Dan, apa salahnya menghambur tawa. Untuk hari ini dan esok yang kami persiapkan berbahagia. Ini waktunya bercerita.</p>
<p>Malam diwarnai gelontoran kisah dan warnawarna. Bersama di ruang yang ada tivinya, ditemani makanan ruparupa, kami mengurai tawa lagilagi. Sehari itu pun, telah ada tujuh ratus foto terkumpul. Betapa banci fotonya kami semua. Ckckckckck,</p>
<p>“Bapak, putrane loro? Fiqi karo raine?”</p>
<p>Hahahahaha. Semoga kalian masih ingat apa arti percakapan tersebut. Lima jempol untuk Ka Romi yang senantiasa berani bercakap dengan beliau, bapak Ka Fiqi. Meski, bukankah sebaiknya kau les privat dulu dengan saya? Wkwkwkwkw</p>
<p>Dan paginya, Ka Fiqi berjanji membawa kami ke kebun salak. Sebuah bayangan menggiurkan melesak ke otak. Petik sendiri salakmu, langsung makan sepuasnya, jarah sebanyakbanyaknya. Maka, ayo cepat tidur karena esok pagi janji itu akan ditepati.</p>
<p>Pagi itu kami tak mandi. Buruburu minta segera sambangi si kebun salak. Dan, Ka Fiqi sendiri yang menjadi pengendara, membawa serta kami yang jingkrakjingkrak menuju rerimbun salak sebentar lagi. Berbekal celurit dan kardus, peralatan menjarah. Belumbelum, Ka Irfan sudah pesan satu kardus untuk dibawa pulang. Pecinta nol rupiah tentu saja kita ini.</p>
<p>Jeritjerit bagai beruk yang baru sekali melihat pisang. Kami berloncatan menyerbu tanah dengan rimbun salak di sanasini. Memperhatikan instruksi Ka Fiqi dan segera balas sambar itu celurit, mencoba praktek sendiri. Mulut di sanasini saling balas teriak, ingin mencoba memangkas (atau apa itu istilahnya) salak yang di sebelah sini. Lalu ada yang di sana. Kemudian menemukan lagi di situ. Di sana, di situ, sini, sono. Semua ingin dipetik. Apakah kau tak bangkrut dengan datangnya kami, Ka Fiqi? Semoga menambah berkahmu dan jadi ladang amalmu. :p</p>
<p>Ada syuting di kebun salak. Itu, Ka Romi sebagai emsi dengan mic celurit tajam. Purapura profesional mewawancarai kami. Padahal kan gueeee emsi kondangnya (dijitak Ka Irfan).</p>
<p>Kami memulangkan diri setelah mengepak oleholeh yang menggelayut tangan kami kanankiri. Menumpang lagi si mobil baik hati, kami menuju Banjarnegara. Mengantongi lelah dan syukur tak sudahsudah. Mengembriokan kembali titik selanjutnya yang akan kami kunjungi.</p>
<p>Terimakasih, telah mengunjungi kota saya dan hati saya di Banjarnegara.</p>
<p>So, ikan hiu mutermuter, see U later. :p</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Benarbenar ingin mengunjungi Solo setelah ini. Bagaimana jika kita wujudkan? Turut mengundang kakakaka lain yang tentu akan menambah kadar ceria. ^_^</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/annisaoktaviana.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/annisaoktaviana.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/annisaoktaviana.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/annisaoktaviana.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/annisaoktaviana.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/annisaoktaviana.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/annisaoktaviana.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/annisaoktaviana.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/annisaoktaviana.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/annisaoktaviana.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/annisaoktaviana.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/annisaoktaviana.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/annisaoktaviana.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/annisaoktaviana.wordpress.com/236/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisaoktaviana.wordpress.com&amp;blog=10078026&amp;post=236&amp;subd=annisaoktaviana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/09/17/dieng-abode/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99cb0e9d38ef9109004e5c2a582995fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">viannisa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>harinya keluarga</title>
		<link>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/09/01/harinya-keluarga/</link>
		<comments>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/09/01/harinya-keluarga/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Sep 2011 05:01:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>annisa Oktaviana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annisaoktaviana.wordpress.com/?p=231</guid>
		<description><![CDATA[mengautis di depan leptop mas ian. berjudul menanti dhuhur dan semangat untuk mandi. sebenarnya saya sudah menyetrika dan menyiapkan baju dari tadi. tinggal realisasi niat hati saja. aneh sekali seringnya. kalau sedang ada agenda buruburu harus keluar, eh lha kok koneksi internet yang tadinya hanya sebagai alat pembunuh waktu mengantri mandi, tbatiba jadi cepat sekali. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisaoktaviana.wordpress.com&amp;blog=10078026&amp;post=231&amp;subd=annisaoktaviana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>mengautis di depan leptop mas ian. berjudul menanti dhuhur dan semangat untuk mandi. sebenarnya saya sudah menyetrika dan menyiapkan baju dari tadi. tinggal realisasi niat hati saja.</p>
<p>aneh sekali seringnya. kalau sedang ada agenda buruburu harus keluar, eh lha kok koneksi internet yang tadinya hanya sebagai alat pembunuh waktu mengantri mandi, tbatiba jadi cepat sekali. alhasil, saya aji mumpung untuk upload foto. wah, cepet. padahal kemarinkemarin, buka facebook saja lamanya minta ampun. lha kok sekarang segalagala cepet. apa ndak suatu godaan yang besar? hoho. belum lagi, cobacoba unggah notes. biasanya, boroboro kebuka. nunggunya saja lamanya minta ampun. dan barusan, saya aji mumpung lagi. tiga notes saya masukkan ke itu catatan facebook. wohooo, tidak berhenti sampai di sini kepongahan saya. ini, lihat saja. akhirnya saya berhasil juga mengobrakabrik blog setelah sekian lama saya tinggalkan. oh, blog-ku&#8230; apa kabarmu? maafkan, lama sudah kaucueki.</p>
<p>dan seharusnya saya mandi. keluarga kami, melebarankan diri hari ini. beragenda mengunjungi kakek, sekaligus ke makam nenek. rencana yang sudah disusun dari hari lalu. akankah gagal hanya karena mba eka-nya ndak kunjung mandi dan asik menenggelamkan diri pada koneksi internet yang tengah asoyasoynya? oh, godaan&#8230; kau memang sering kali memabukkan. Allah, beri petunjuk. haha, lebay</p>
<p>tapi benar sekali lho. bukan hanya pada hal ini kita sering hadapi godaan serupa. pada saat kita sudah komitmen terhadap sesuatu, seringkali pilihanpilihan lain muncul. dan si pilihan baru yang muncul tersebut lha kok sangat mengasikkan gitu lho. jadilah kita bingung. mau tetap melakukan niat semula atau terhanyut pada pilihan yang muncul tibatiba.</p>
<p>hei, konsisten dong. niat semula kan mau ke rumah simbah. so, tunggu apa lagi? bukankah momen pulang kampung dan saling mengunjungi itu hanya harihari begini, sekali setahun? sedangkan koneksi internet, semoga esok masih dapat terjelang.</p>
<p>hei, itu saya sudah disuruh mandi. yuk ah, sampai jumpa lagi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/annisaoktaviana.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/annisaoktaviana.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/annisaoktaviana.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/annisaoktaviana.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/annisaoktaviana.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/annisaoktaviana.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/annisaoktaviana.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/annisaoktaviana.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/annisaoktaviana.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/annisaoktaviana.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/annisaoktaviana.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/annisaoktaviana.wordpress.com/231/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/annisaoktaviana.wordpress.com/231/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/annisaoktaviana.wordpress.com/231/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisaoktaviana.wordpress.com&amp;blog=10078026&amp;post=231&amp;subd=annisaoktaviana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/09/01/harinya-keluarga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99cb0e9d38ef9109004e5c2a582995fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">viannisa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>matahari</title>
		<link>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/09/01/matahari/</link>
		<comments>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/09/01/matahari/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Sep 2011 04:47:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>annisa Oktaviana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annisaoktaviana.wordpress.com/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[Ada nestapa di puncak sunyi, Bersama burung kolibri yang terbang pergi. Bukankah ini musim semi? Tak kudapati pada hatimu yang mati. Tolong bunuh lara yang tibatiba menyandar pagi sedang aku masih merindu fajar kembali Apa gerangan si hari? Aku merajuk, Esok akankah boleh kukembali? Mohon beri aku nama, Atas segenap rahasia yang kuajak serta. Matahari. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisaoktaviana.wordpress.com&amp;blog=10078026&amp;post=229&amp;subd=annisaoktaviana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada nestapa di puncak sunyi,</p>
<p>Bersama burung kolibri yang terbang pergi.</p>
<p>Bukankah ini musim semi?</p>
<p>Tak kudapati pada hatimu yang mati.</p>
<p>Tolong bunuh lara yang tibatiba menyandar pagi sedang aku masih merindu fajar kembali</p>
<p>Apa gerangan si hari?</p>
<p>Aku merajuk,</p>
<p>Esok akankah boleh kukembali?</p>
<p>Mohon beri aku nama,</p>
<p>Atas segenap rahasia yang kuajak serta.</p>
<p>Matahari.</p>
<p>Beri aku nama ;</p>
<p>Matahari.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/annisaoktaviana.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/annisaoktaviana.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/annisaoktaviana.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/annisaoktaviana.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/annisaoktaviana.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/annisaoktaviana.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/annisaoktaviana.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/annisaoktaviana.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/annisaoktaviana.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/annisaoktaviana.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/annisaoktaviana.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/annisaoktaviana.wordpress.com/229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/annisaoktaviana.wordpress.com/229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/annisaoktaviana.wordpress.com/229/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisaoktaviana.wordpress.com&amp;blog=10078026&amp;post=229&amp;subd=annisaoktaviana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/09/01/matahari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99cb0e9d38ef9109004e5c2a582995fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">viannisa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>saya dan apa kabarnya mereka</title>
		<link>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/09/01/saya-dan-apa-kabarnya-mereka/</link>
		<comments>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/09/01/saya-dan-apa-kabarnya-mereka/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Sep 2011 03:58:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>annisa Oktaviana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://annisaoktaviana.wordpress.com/?p=226</guid>
		<description><![CDATA[Saya dan apa kabarnya mereka Saya di Banjarnegara. Tentu saja akan menjemput beberapa penggal masa lalu. Manis, pahit ada. Harus diterima apa adanya, mau tidak mau. Maka saya menikmati saja. Bukan begitu? Terjelang satu fakta di depan mata kala kaki menjejak kembali rumah terhangat kami. Saya di sulung, ternya beradik mereka yang mendewasa. Lihat di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisaoktaviana.wordpress.com&amp;blog=10078026&amp;post=226&amp;subd=annisaoktaviana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya dan apa kabarnya mereka</p>
<p>Saya di Banjarnegara.<br />
Tentu saja akan menjemput beberapa penggal masa lalu. Manis, pahit ada. Harus diterima apa adanya, mau tidak mau.<br />
Maka saya menikmati saja. Bukan begitu?<br />
Terjelang satu fakta di depan mata kala kaki menjejak kembali rumah terhangat kami. Saya di sulung, ternya beradik mereka yang mendewasa.<br />
Lihat di sini, di sebelah kiri saya. Tertidur nyaman dhe ama, si kedua berusia dua puluh tahun. Menanti giliran OL, ia pun terlelap. Setelah tadi sempat bersama saya mengabdikan diri pada sang papi, mengambil jahitan baju. Mungkin baju lebaran. Mungkin juga baju dinas kebanggaan. Tak jelas. Karena kami tak bertanya banyak. Yang jelas, setelahnya kami korupsi terang-terangan itu uang kembalian. Membeli beberapa jajanan untuk pemenuh klukas (klukas, bukan kulkas. Saya lebih nyaman menyebut demikian)<br />
Masih terngiang, bagaimana mami dengan sangat cerewet dan semangat menceramahi saya tadi pagi. Ayo merawat diri! Itu muka dibersihin! Dan bla bla bla rentet wejangannya. Belajarlah dari dhe ama yang sudah piawai merawat diri. Hahaha. Buset daaaah… Saya jadi merasa bocah sekali. Dan akhirnya, saya mandi. Sebelumnya saya maskerin ini muka, dan saya lulurin ini badan pakai punya dhe ama. Wkwkwkw<br />
Iya, iya betul. Memang dhe ama lebih master lah dari saya. Alat permak wajahnya lengkap. Mau yang pagi, siang, malam, ada. Mau buat wajah, mata, bibir, badan, kaki, rambut, ada. Boleh lah saya belajar padanya. Toh saya juga wanita dewasa (katanya). Hahaha<br />
Makin disadarkan saja, dhe ama mendewasa. Lalu saya? ^_^<br />
Kemudian yang di sana, di kamar depan tengah terlelap tengkurap. Ada mas ian, si nomor tiga yang tingginya sekarang pun sudah tak kira-kira. Boncel sekali saya di sampingnya. Si mas ian yang ada di potret saya lima belas tahun lalu, tak sama lagi dengan sekarang. Suaranya menggelegar. Sorot mata bagai elang (hahaha). Belum lagi kalau adu jotos, saya tak lagi jadi pemenang. Sekali pelintir, saya mengaduh, meringis, mencubit. Sedang dia, terkekeh geli merasa menang si mba eka-nya dulu yang selalu adi kuasa, kini bisa dengan gampang ditangani.<br />
Mas ian dengan delapan belas tahunnya. Bukan bocah lagi tentu saja. Kaki dan tangannya, telah berulang kali keluar-masuk hutan. Kemping di alam liar, sepertinya bukan jadi soal. Suka sekali melanglang buana. Apa itu penyebabmu masuk maritim? Semoga nanti mba eka boleh menumpang menuju Tokyo ya… hehe.<br />
Makin disadarkan, mas ian pun mendewasa. Lalu saya? ^_^<br />
Dan sedang tak berada di rumah, Adina istqomah si nomor empat yang haram saya panggil dina. Dengan sesuka hati, saya nobatkan namanya menjadi dono. Nama yang enak sekali untuk diucapkan. Tapi, tidak seenak ekspresinya saat saya memanggil demikian di depan teman-temannya. Bocah secantik itu dipanggil dono? Iya, dono memang cantik. Lebih cantik dari saya dan dhe ama katanya. Tapi bagi saya, saya tetap yang paling cantik di rumah. Tercantik dan terkucel. Hahaha<br />
Dono sayang sudah hampir ber-KTP. Menjejak enam belas tahun sejak juli lalu (jika saya tak salah ingat). Gadis sangat dewasa tampaknya. Mengerti mode sangatsangat. Bajubajunya tak bertanding dengan yang saya pakai. Dia senang sekali meledek saya udik padahal telah berkuliah di paris van java. Saya terkikik saja. Senang asal dia senang. Hahaha<br />
Toh saya memang begini, dono… mba eka-mu yang dulu masih seperti dulu. Ndak ngerti mode, kata mami juga. Tapi agaknya papi tak berkeberatan mba eka seperti ini saja. Wkwkwkwk. Bagaimanapun, saya suka dono yang begitu. Lumayan lah, buat seger-seger mata. Saya ndak bisa seperti itu, paling tidak, ada makhluk yang rada bersih dan terawat di rumah.<br />
Panjang sekali tulisan saya di bagian dono. Padahal dia masih yang paling pendiam di rumah. Boleh lah nanti saya sambng lagi tentangnya.<br />
Makin disadarkan, dono pun mendewasa. Lalu saya? ^_^<br />
Sedang seperti ini, tiba-tiba ada sesosok yang hadir di belakang saya. Semula saya kira dono, dan ketika kepala saya benar-benar menengok, “Gembeeeeng…!!!” ternyata itu adalah si bontot di keluarga kami. Terlahir dengan nama indah Abadullah Fathoni, namun mendewasa dengan nama pemberian saya ; Gembeng. Apa pasal? Dulu gembeng sangat cengeng. Segala hal bisa jadi penyebab ia menangis (tanpa air mata) meraung-raung di hadapan kami. Namun sekarang tentu tak lagi. Bahkan sempat terkaget, suara si gembeng berubah menjadi besar! Haha, saya takjub lagi. Dulu, paling tidak waktu saya pulang terakhir januari lalu, suaranya masih bersisa imut-imut. Tapi kini? Okelah, gembeng… kamu hampir dewasa.<br />
Dan pipimu, sepertinya tak lagi boleh sebagai landasan bebas bibir-bibir jahil kami. Kamu tak lagi bias dipeluk-peluk bebas. Tapi biarlah, saya masih mau biasa saja. Toh kamu masih bontot kami… Sampai nanti SMA, sampai nanti kuliah, kecuali kalau kamu sudah menikah.<br />
Haha, gembeng… kau pun mendewasa. Lalu mba eka? ^_^<br />
Ah, baiklah… sudah terjelang ashar. Mari solat. Lalu berangkat ke suatu tempat…</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/annisaoktaviana.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/annisaoktaviana.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/annisaoktaviana.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/annisaoktaviana.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/annisaoktaviana.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/annisaoktaviana.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/annisaoktaviana.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/annisaoktaviana.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/annisaoktaviana.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/annisaoktaviana.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/annisaoktaviana.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/annisaoktaviana.wordpress.com/226/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/annisaoktaviana.wordpress.com/226/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/annisaoktaviana.wordpress.com/226/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=annisaoktaviana.wordpress.com&amp;blog=10078026&amp;post=226&amp;subd=annisaoktaviana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://annisaoktaviana.wordpress.com/2011/09/01/saya-dan-apa-kabarnya-mereka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99cb0e9d38ef9109004e5c2a582995fd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">viannisa</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
